Kereta Shinkansen Nozomi dengan kecepatan hampir 400 km/jam dari Osaka, pada menit ke-40 mengurangi lajunya. Dari balik jendela kereta super cepat itu, saya sudah mulai melihat hamparan persawahan yang padinya dipanen sebulan sebelumnya. Sederetan bukit-bukit kecil memanjang, sejauh mata memandang, diselimuti pepohonan yang daunnya sedang berganti warna, melatarbelakangi permukiman. Saat itu, sedang musim gugur, musim yang paling saya sukai.
Sambil menikmati keindahan hamparan lansekap dengan aneka perubahan warna daun (kouyou), tanpa terasa, laju Shinkansen semakin lambat. Di sisi kiri, terlihat Sungai Asahi (Asahi Gawa) yang lebar dan bening kebiruan, dihiasi bebek-bebek liar (kamo) yang berenang di tepiannya.
Sungai itu membelah kota Okayama sebelum sampai ke muara yang berada di Seto inland sea (Seto nai kai). Di sisi kanan, tampak di kejauhan, kampus Okayama University, almamater saya, dan juga arena olahraga (undoukouen) dengan Momotaro Stadium yang sangat besar dan megah. Beberapa detik kemudian, kereta berhenti dengan lembut tanpa guncangan.
Saya melangkah keluar dari pintu kereta. Ketika menapakkan kaki di Stasiun Okayama yang bersih dan asri, kembali saya merasakan udara lembut, segar dan bersih, dengan temperatur relatif dingin, sekitar 15 derajat Celcius. Tapi, saya merasa nyaman karena tubuh saya di balut sweater tebal, dan jaket.
Perjalanan Pendidikan
Okayama, kota yang berpenduduk 600.000 jiwa, ibu kota propinsi (Prefektur) Okayama, memiliki boulevards dan avenues yang lebar dan luas, lajur pejalan kaki dan trek sepeda, terbujur ramah di sepanjang jalan raya. Stasiun kereta yang megah, dan gedung-gedung pencakar langit.
Meskipun setiap tahun saya datang ke situ, selalu saya melihat ada sesuatu yang baru. Selalu ada perubahan. Kota itu sangat dinamis. Sesuatu yang membuat saya excited. Perubahan yang bukan hanya disebabkan karena adanya empat musim (shiki) yaitu musim semi (haru), panas (natsu), gugur (aki) dan dingin (fuyu), tetapi perubahan fisik kota. Semuanya menuju ke arah perbaikan, kelengkapan fasilitas, sarana dan infrastruktur kota bagi kenyamanan penduduknya.
Saya pertama kali menginjakkan kaki di kota Okayama, 18 tahun lalu. Saat itu, awal musim panas 1988. Istri yang saya nikahi 28 Februari, pada awal April 1988 melanjutkan studi S2 di Kagawa University, kota Takamatsu, Pulau Shikoku. Kunjungan pertama ke Jepang itu, termasuk ke kota Okayama yang memiliki Korakuen, yaitu salah satu dari tiga taman tercantik di Jepang, adalah perjalanan bulan madu.
Kunjungan kedua, saya kembali ke Okayama untuk menempuh studi S-3 di Okayama University, dengan beasiswa dari Kementerian Pendidikan, Olah Raga dan Kebudayaan (Monbukagakushou), 1994-1998. Selama itu, terukir berbagai pengalaman yang menarik.
Sebelum lulus program Ph.D. dari Lab. of Landscape Ecology & Environmental Management, the Graduate School of Natural Science & Technology, Okayama University pada 24 Maret 1998, di awal Februari saya sudah diminta masuk sebagai anggota tim peneliti dari Research Group of Landscape Ecologycal Study on Sustainable Bio-Resources Management in Rural Indonesia.
Kerjasama penelitian yang dilakukan antara IPB dan Tokyo University dalam Core University Research Program on Applied Bio-Sciences itulah yang pada akhirnya memberi kesempatan bagi saya 1-2 kali per tahun dapat kembali ke Jepang. Sebagai peneliti, saya mendapat kesempatan exchange scientist program baik ke Okayama University, Tokyo University, maupun ke Tohoku University di Sendai pada periode 1998-2002 dan 2002-2007. Kerjasama itu akan diperpanjang untuk kedua kalinya, 2007-2011.
Selain untuk program itu, saya juga merintis kerjasama lebih luas antara IPB baik dengan Okayama University, juga dengan Awaji Landscape Planning & Horticulture Academy (ALPHA) di Awaji Island, Hyogo Prefecture. Dari program-program tersebut, perjalanan saya ke Jepang dilaksanakan sebagai program visiting professor (kyaku kyouju), mengajar program pascasarjana dengan materi kuliah unggulan Tropical Landscape Management.
Umumnya, saya laksanakan program itu di musim semi atau musim panas. Saya selalu menghindari jadwal perjalanan di musim dingin, karena selain repot dengan bagasi yang sebagian besar berisi baju-baju tebal, saya juga tidak tahan terhadap suhu udara yang berkisar 0 derajat Celcius, atau bahkan minus.
Perjalanan saya kali ini pun, untuk program pertukaran ilmuwan. Saya melakukan koordinasi penelitian dengan mitra dari Jepang, Prof. Keiji Sakamoto (tutor saya saat saya studi S-3). Selain itu, saya melakukan kegiatan olah data hasil penelitian, menulis artikel untuk jurnal, menulis buku, ngunduh artikel dari e-library, dan juga presentasi di depan anggota laboratory di mana saya berada. Saya juga memberikan konsultasi pembimbingan bagi mahasiswa S-3 dan S-2 Jepang maupun Indonesia yang studi di Jepang. Mereka tergabung dalam payung kerjasama penelitian university to university (U to U).
Menghargai Alam
Saya sangat menyenangi perjalanan di musim semi dan musim gugur. Selain udara sejuk dan nyaman, langit biru lazuardi, juga pada saat-saat ini banyak dilakukan seminar-seminar ilmiah (gakkai), simposium, dan lokakarya pada level nasional di bulan April-Mei, dan level regional di bulan Oktober-November. Lebih jauh, sebagai arsitek lansekap, pada musim semi saya sangat menikmati keindahan bunga sakura yang mekar serempak (man-kai) sepanjang sungai atau jalan berkilo-kilo meter di setiap kota.
Bersamaan dengan bunga sakura mekar, kuntum bunga-bunga lainnya seperti magnolia, camelia, azalea, tulip, lavender dan lainnya merebak wangi dengan aneka warna yang sangat mengesankan.
Cantik dan moleknya alam semesta bersama elemen pengisinya, diapresiasi oleh masyarakat Jepang dengan pesta melihat bunga (hana-mi). Sedangkan di musim gugur, rona alam tumbuhan berubah dari hijau royo-royo di saat musim panas menjadi aneka warna yang cantik. Sebelum menggugurkan diri, daun-daun maple (momiji), cherry (sakura), oak (donguri), ginko (ichou), kai no ki, hanamizu no ki, dan lain-lain, berganti warna yang sangat mengesankan.
Dengan adanya empat musim, selain terjadi perubahan lingkungan yang jelas, pola kehidupan keseharian masyarakatnya juga berubah, baik dari jenis makanan maupun cara berpakaian.
Pada setiap musim berjalan, orang Jepang selalu menanti-nanti datangnya musim berikutnya. Itu mereka ekspresikan dengan hasrat dan keinginan lewat kata-kata yang disebut otanoshi mi ini, ”dengan suka-cita betapa kami menunggu saat-saat yang dinantikan”. Dari itu saja, saya banyak memelajari bagaimana mereka menghargai semua elemen alam dan segala perubahannya (shizen ni yasashiku).
Kita jumpai lingkungan yang bersih dari sampah. Mereka sangat menghargai tempat-tempat publik, yang harus mereka jaga bersama. Pendidikan kebersihan telah tertanam sejak anak-anak duduk di kelompok bermain (hoikuen) pada umur 1-2 tahun.
Betapa indahnya, andai masyarakat Indonesia yang tahu bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, dapat mempraktekkan itu dalam keseharian perilakunya.
Di Indonesia, siapakah yang peduli dengan lingkungan di luar diri kita? Sehingga, ketika akan datang musim kemarau, semua takut akan datangnya kekeringan, kebakaran hutan, bahkan kelaparan. Sebaliknya, ketika akan datang musim hujan, semua takut banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Lalu, saya berpikir, bagaimana alam bisa ramah kepada kita, bila manusianya sendiri serba ketakutan, yang tentunya diawali tidak adanya perhatian terhadap lingkungan, tidak peduli terhadap perubahan dan perbedaan bahkan mencampakkan lingkungan dengan merusaknya, merambah hutannya, menebangi pohon, meratakan bukit, mengotori sungai dan pantai. Dan akhirnya alam pun murka.
Kampung Halaman Kedua
Di Okayama, saya punya orangtua angkat (Ooyasan), yaitu Mr. Katsuo Katayama & Mrs. Kazue Katayama. Berawal setelah selesai tinggal di asrama mahasiswa asing (Ryuugakusei Kaikan) pada tahun pertama studi di Okayama University, tiga tahun berikutnya hingga lulus, saya homestay di keluarga Katayama.
Pada saat yang sama, istri saya juga sedang studi S-3 di Ehime University. Ia bersama putri kami yang manis tinggal di kota Takamatsu, Shikoku Island. Berada pada pulau yang berbeda, prefektur yang berbeda, kota yang berbeda, menyebabkan kami bertiga saling mengunjungi di akhir pekan. Dan bila tiba giliran keluarga saya yang datang ke Okayama, Bapak-Ibu Katayama selalu menyambut hangat selayaknya anak dan cucu yang datang.
Setiap tahun, kami selalu dilibatkan dalam acara-acara tradisional Jepang dalam menyambut hari-hari perayaan, festival (matsuri), seperti obon, osogatsu, sichi-go-san oiwai dan lain-lain untuk mengenal budaya Jepang lebih jauh dan lebih dalam.
Untuk menguasai ilmu dan teknologi Jepang, kita sangat perlu menguasai bahasa dan budayanya. Salah satu caranya, tinggal bersama keluarga Jepang. Memahami nilai-nilai (values) dan norma dalam perilaku kesehariannya, untuk bekerja keras, jujur, taat pada peraturan, bersih, setia kawan, dan malu bila berbuat salah.
Saya merasakan betul, semangat tersebut ada pada setiap tarikan nafas mereka, ada pada setiap detak jantung mereka. Itu suatu pendidikan budaya yang langsung saya pelajari, the feel of the land, karena saya hidup bersama mereka.
Ikatan batin keluarga saya dan keluarga Katayama sudah sangat erat. Setelah kami lulus dan kembali ke Tanah Air, beliau acapkali liburan ke Indonesia di waktu musim panas. Beliau tentu tinggal di rumah kami. Begitu juga sebaliknya.
Kami sama-sama keluarga pendidik. Saya dan isteri dosen di Departemen Arsitektur Lansekap, IPB. Sami-isteri Katayama pensiunan kepala sekolah. Ayah angkat adalah kepala sekolah kejuruan musik dan salah satu maestro piano di Jepang. Ibu angkat adalah kepala sekolah dasar yang juga menguasai berbagai macam alat musik. Kesamaan cita-cita, yaitu ingin mencerdaskan anak bangsa, membuat ikatan kami semakin kuat.
Satu hal yang saya selami dalam berkawan dengan orang Jepang, mereka sangat mengutamakan kualitas persahabatan. Ketika sudah merasakan adanya ikatan persahabatan dengan predikat nakyoshii tomodachi, maka kualitas ikatan tersebut sama dengan ikatan persaudaraan, atau mungkin melebihinya. Orang Jepang akan membantu, membela, dan rela berkorban sebisanya demi kebaikan temannya. Satu hal ini yang saya juga pelajari dalam setiap perjalanan saya ke Jepang, termasuk pada 11-26 November 2006.
* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 04/Tahun III/Maret 2007


0 Komentar