Gilang & Yona !
Perjuangan menggapai sejuta asa
Chapter 1
Kakak Yang Baik Hati
“Perjalanan ini
Terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan
Banyak cerita yang mesttinya kau….”
Oihhhh, seorang pemuda yang tengah asik menikmati music di tengah perjalanannya menggunakan kereta jurusaan Jakarta-Bandung tiba-tiba terkagetkan oleh colekan keras dari balik punggungnya. Seorang anak kecil dengan baju lusuh dan kaki yang tanpa menggunakan alas, ditemani seorang anak perempuan yang sebaya dengan sebuah kicrikan di tangan kanannya, mencolek punggung laki-laki tadi. Agaknya kedua bocah itu ingin meminta bayaran atas aksinya menyanyikan sebuah lagu dari sebuah bioyband ibukota, meski jauh dari kesan “Mirip”. Dengan muka polos, anak laki-laki itu menyodorkan kantong plastic permen relaxanya, berharap si pemuda mau menyisihkan barang 500 rupiah saja.
Beruntunglah, si pemuda yang penampilannya laiknya seorang mahasiswa universitas ternama, memberikan 1 lembar uang 5 ribuan di balik jaket biru tuanya. Sontak, ekspresi sumringah langsung terpampang di kedua wajah bocah cilik tadi. “Terimakasih kakak “ Ucap kedua bocah tadi. “sama-sama adik” si pemuda itu tersenyum menimpali ucapan bocah tadi.
Kebetulan, karena seluruh penumpang sudah di “Tagih” dan pemuda yang tampak seperti mahasiswa universitas ternama tadi adalah yang terakhir, kedua bocah itupun duduk di samping pintu kereta atau persis di sebelah kursi si pemuda. “seribu, dua ribu” aduh banyak banget kak, cetus si bocah perempuan. “heheh,,iya banyak banget hari ini yang kiat dapet ya dek, alhamdulilaaaah”. Tampaknya kedua bocah itu sangat senang dengan perolehannya hari ini, sambil menghitung lembar demi lembar uang dari dalam bungkus permen relaksa, kedua bocah lugu berbaju lusuh tadi tanpa sungkan bernyanyi-nyanyi tembang-tembang yang memang lagi hitz. Itung-itung hiburan geratis, selagi menunggu kereta tiba di bandung.
“ Dek, sini duduk di sini, kosong nih dek, daripada lesehan disitu” Celoteh si pemuda yang tampak seperti mahasiswa universitas ternama, sambil membuka headset dari telinganya dan mematikan music dari IPODnya. “Sini dek, duduk sini bareng kakak” Sambil senyum –senyum tulus pada kedua bocah tadi.
Kedua bocah yang tadinya malu-malu tapi mau itupun beranjak, menuju kursi yang memang kosong disebelah si pemuda yang sekali lagi tampak seperti mahasiswa dari universitas ternama, meninggalkan sejenak aktivitas hitung-menghitung duit sambil nyanyi-nyani yang sedari tadi dilakukannya.
“Sini dek”, si pemuda dengan sigap mengangkat tas punggungnya yang sebelumnya tergeletak di bangku kosong sebelahnya.
Bergegegas, si bocah perempuan memilih duduk di kursi paling ujung, sehingga hanya menyisakan satu kursi kosong di antara dia dan si pemuda, otomatis kursi itu menjadi milik si bocah laki-laki. Agaknya dia agak sedikit pemalu.
“Dek, adek dimana rumahnya dek, adek enggak sekolah ?” Si pemuda yang tampak seperti mahasiswa universitas ternama mencoba untuk membuat suasana lenbih hangat, menyapa dengan senyum yang menyisakan dua lesung di pipi-pipinya. Dan tidak perlu menunggu barang semenit, si bocah laki-laki menjawab pertanyaan si pemuda dengan penuh antusias, terlihat dari gurat senyum yang mengembang di bibir kecilnya, memperlihatkan gigi-gigi ompong miliknya, yang bisa membuat siapa saja tersenyum jikalau melihatnya, menjadikannya jurus jitu menarik simpati tatakala menagih “jatah” di sepanjang gerbong kereta.
“aku, tinggal di Jakarta kak bareng kakek, aku nggak sekolah,kak, ma’lum kak, orang tua aku udah nggak ada kak, alahasil aku sama adik aku gak sekolah”.
“Owh, begitu ya dek ??, kalau adek berdua masih pengin ngelanjutin sekolah, adek boleh datang ke rumah kakak di bandung, kebetulan, orang tua kakak punya yayasan, jadi di situ banyak banget anak-anak yang putus sekolah, terus disekolahin sama ayah ibunya kakak. Nanti kalau adek mau, kakak bisa ngomong sama ayah ma ibu, Oia dek nama adek siapa ??”
“Nama aku Gilang kak, kalau adik akuu namanya Yona, Yona prima cantika yah kak bukan Y-o-o-n-a snsd (sambil mengeja huruf satu persatu” ujar bocah lelaki sambil senyum-senyum polos, menyisakan kernyitan di dahi yang terliha agakt kusam oleh debu .
“Oia nama kakak siapa ?” kakak kuliah ya ??” celetuk si bocah perempuan yang mungkin usianya baru 6 tahunan, yang sedari tadi duduk terdiam, agak pemalu, mungkin karena dia gerah juga dengan monopoli ppembicaraan kakaknya, dia juga sesekali ingin berkata-kata, walau memang agak terbata-bata.!
“Oh, Gilang, Yoona, nama yang bagus” ujar si pemuda yang tampak seperti mahasiswa universitas ternama, dan memang begitulah kenyataan yang ada.
“Oia, Gilang, Yoona, kalian boleh panggil kaka, Damar, bukan Damar wulan loh yah (sambil tersenyum lebar), iya kakak kuliah semester 4 di Institut Pertanian Bogor, kebetulan kakak ambil jurusan Arsitektur Lanskap, Kalian tahu apa itu Arsitektur lanskap ??” Tanya pemuda yang mengaku bernama Damar.
“Arsitektur lanskap?, apaan itu ka, Gilang gak tahu ? kamu tahu gak Yona (sambil melirik Yona, menyenggolkan tangan kirinya, berharap Yona tahu apa itu lanskap !.) Hahah, dasar kakak yang aneh, mana mungkin adiknya yang hanya berumur 6 tahun atau setahun lebih muda dari umurnya akan tahu apa itu lanskap.
“Ihh, ka Gilang., mana mungki Yona tahu, Yona kan masih unyu-unyu gitu, mana mungkin tahu hal-hal yang seperti itu (sambil menggeleng-gelengkan kepala, dan agaknya sifat asli Yona mulai terlihat, Gadis kecil berkulit putih namun agak sedikit kusam oleh debu itu pandai Ngeles, meskipun tadinya pemalu”.
“Aduh kak, gak tahu, kok aneh gitu sih kak namanya, kenapa gak kuliah di kedokteran aja, kan kalau begitu Gilang sama Yona bisa tahu, hehehe” sahut Gilang dengan nada so innocent dan cenderung menawar.
“Hhha (Damar tersenyum kepada Gilang dan Yona yang masih agak kebingungan menerka-nerka apa sih sebenarnya lanksap itu ?), Begini yah dek, Kalau adek liat pemandangan di luar sana (sambil menunjuk kearah luar jendela), adek bisa liat kan Diana ada gunung yang berjejer dengan cantiknya, ada sungai yang berkelak kelok seperti ular, ada sawah yang kotak-kotak kaya persegi, bahkan sampai burung-burung yang terbang meliuk rendah di atasnya, itu lanskap dek, tapi lanskap bukan hanya itu dek, apa yang Gilang dan Yona lihat baik di kota, di jalanan, di sungai, di desa sekalipun itu lanskap dek. Nah kalau arsitektur itu ilmu dan seni mempelajari pengaturan ruang, biar bisa tertata rapi, indah dan berguna, gimana jelas kan dek apa itu arsitektur lanskap hehehe.. ?(Aduh gak mungkin juga aku pake definisi lanskap menurut bukunya simonds)”
“Ohh, itu yah kak (sambil ikut menunjuk hamaparan sawah yang terlihat dari jendela berkarat khas kereta ekonomi (walaupun Gilang anak orang kaya, namun dia tidak begitu pilih-pilih, dia lebih suka terlihat sederhana). ! hmm itu toh lanskap (dengan gaya sok tahu dan paham), Yona tahu gak (Sembil melirik kearah Yona, dan berharap agar Yona menggelang-gelengkan kepalanya, supaya ada yang menemaninya dalam kebingungan yang luar biasa ini.
“Yona tahu kok kak Gilang, pokoknya lanskap itu seusatu yang indah, iya kan kak damar?” sambil tersenyum melihat kak damar, dan sesekali kak Gilang yang mukanya agak kecewa karena prediksinya meleset total.
“Ahh, benar, kalian berdua benar…!!, Lanskap itu sesuatu yang indah, dan itulah mengapa kakak pilih lanskap sebagai jurusan kakak, Ah yaa Kalian Cita-citanya pengin jadi apa kalau sudah besar nanti ?” Tanya Damar kepada kedua bocah yang mungkin dalam hatinya masih menerka-nerka lanskap itu apa, walaupun sebelumnya sudah di jelaskan oleh Damar dengan cukup jelas diswertai ilustrasi yang menarik.
“Ah, Kalau Gilang ingin jadi penyanyi saja kak, kayak ka Agnes monica, biar bisa pergi keluar negeri”
“Emang kak Gilang bisa bahasa inggris?,(celetuk Yona yang sekaligus menurunkan tingkat kePeDean kakaknya seketika itu juga… Ka Damar, kalau sudah besar nanti Yona pengin ah jadi kayak kaka, Pengin liat yang indah-indah “
“Yee, Yona, katanya kemarin pengin jadi anggota Girlsband macam Cherrybelle, heheh ? (Balas Gilang yang masih agak kecut dengan celetukan Yona tadi”
“iiiiihhh, Kak Gilang mah, itukan kemarin,hari ini beda dong, heheh.. (sambil senyum-senyum polos, sambil tangan kanannya merapikian rambutnya yang tergerai olah angin, sehingga menutupi mata sipitnya),, Pokoknya aku mau kayak ka Damar aja, wee (Sambil menarik kelopak matanya kebawah, diiringi juluran lidah tanda mengejek kea rah Gilang)”
“Hahahha (Damar kelihatan tertawa kecil), Sudah, sudah, apapun cita-cita Gilang, Yona, boleh-boleh saja, kalau Gilang mau jadi penyanyi kayak kak Agnes boleh, walaupun gak bisa bahasa inggris tapikan ntar Gilang bisa belajar kalau Gilang sekolah, Terus Yona, yang kemarin kepengin jadi anggota gilrsband seperti cherrybelle, trus hari ini kepengin jadi kayak kaka juga boleh kok, kenapa enggak kalau Yona bisa dua-duanya sekaligus ? Keren kan?, Apa pun cita-citanya bagus kok, asalkan itu berguna bagi nusa dan bangsa yaa.(Mengusap-usap rambut Gilang dan Yona, sambil tersenyum ramah, meninggalakan gurat lesung dipipinya).
Ting.tong.ting.tong
Setengah jam berlalu sejak kedua bocah itu duduk di samping pemuda yang memang mahasiswa universitas ternama, Akhirnya kereta kelas ekonomi yang ditumpangi terpaksa menyudahi tugasnya, tepat di pemberhentian stasiun bandung, membuat pembicaraan seru diantara Damar, Gilang dan Yona harus terhenti sampai disana.
“Udah yah Gilang, Yona, keretanya udah berhenti tuh, kakak mesti turun, oia, ini Alamat kakak (sambil menyerahkan kertas putih bertuliskan tinta hitam, alamat kediamannya di bandung), kalau kalian mau sekolah dan Gilang bisa jadi kayak agnes loh, terus Yona biar bisa jadi kayak Cherrybelle hehehe … Datang aja yah ke rumah kakak, kakak dengan senang hati nungguin kedatangan kalian. Oia ini ada sedikit uang buat jajan ya (sambil menyodorkan lembaran uang 20.000 an) itung-itung buat bonus karena kalian udah nemenin kakak di kereta, oia sampai lupa, salam yah buat kakek kalian di jakarta.”
“Nah sudah yaa, sampai jumpa lagi, Gilang, Yonna !”
Dengan secepat kilat Yona menyambar uang 20.000 an yang diberikan Kak Damar, “Sampai Jumpa lagi kak Damar, Ucap Yona dengan antusias”
“Samapi jumpa kak Damar” (Gilang mengulangi, sambil sekali-kali matanya tertuju pada uang lembaran 20.000 di tangan Yona yang terus digenggam erat olehnya”
“Dahh (Senyum Kak Damar sambil melambaikan tangan kearah Gilang dan Yona dari bibir pintu kereta), Sementara kedua bocah tadi malah kini asik berebut lembaran duit 20.000 an
“Hei itu kan buat aku”
“Bukan itu kan buat ku, buktinya kak Damar ngasihnya ke tangan aku bukan ke kak Gilang yeyyyy….”
Demi melihat kejadian itu Damar hanya bisa tersenyum dari luar kereta yang memang kacenya terbuka, bukan karena sengaja dibuka melinkan memang ada separuh bagian yang terlepas entah kemana”
“Gilang, Yona Samapai bertemu yaaa (gumam Damar dalam hatinya).

0 Komentar