Sebuah Cerpen Karyaku Yang Lumayan Nggak Jelas Tapi Lumayan Bagus
Kak, kenapa sih kakak sekarang jahat sama Oddy sekarang ? Kemana Kak Ben yang dulu, yang selalu tersenyum sama Oddy, yang selalu nyanyiin lagu pas malam-malam kalau Oddy lagi bete, yang selalu bantuin Oddy buat ngerjain soal-soal, yang selalu bangunin Oddy tiap pagi biar Oddy nggak telat masuk sekolah. Mana Kak Ben yang itu ?
Dulu sewaktu papah dan mamah masih ada, aku, dan Kak Ben tinggal berempat dirumah yang cukup luas. Rumah 2 lantai dengan dinding-dinding bercat hijau muda, keramik marmer yang senantiasa licin dan bersih, kolam renang di belakang rumah yang luas, serta taman di depan rumah yang selalu di penuhi dengan bunga-bunga krisan beraneka warna yang teramat cantik untuk dipandang, ada merah, putih, kuning, orange. Mama lah orang yang setiap hari merawatnya. Meski ada Bi Nani,dan Mang Toto, mamah tidak pernah menyuruhnya mereka untuk merawat kebun bunga krisannya itu, alasannya tentu karena kecintaan mama akan tanaman hias.
Berbeda dengan mama, papah adalah seorang yang sibuk, posisinya sebagai manajer membuat ia sering berangkat pagi dan pulang larut malam. Sangat jarang bagiku untuk berjumpa dengan papah, hampir seluruh waktunya dipakai di kantor, aku hanya bisa bertatap muka sesekali saja dengannya, itupun di akhir pekan. Namun begitu, papah adalah sosok yang sangat aku kagumi. Kerja keras dan tanggung jawabnya untuk menafkahi keluarga sungguh tak ada bandingannya.
Satu lagi kakakku, namanya Ben Pratama Putra, Aku biasa memanggilnya Kak Ben, usianya 3 tahun lebih tua dariku. Kak Ben kuliah di jurusan Arsitektur ITB.. Kak Ben pernah bilang padakku, kelak ia ingin membuat rumah dengan designnya sendiri, untuk tempat tinggalku, mamah dan papah. Kadang aku yang suka cari perhatian sama Kak Ben hanya bisa menggodanya, “buat, papah, mamah, sama aku, atau buat calon mamah anaknya Kak Ben” begitu candaku, dan seringkali Kak Ben tertawa lalu mengacak-acak rambutku. Momen seperti itu sangat membekas di memori otakku. Hingga menginjak tingkat 3 kuliahnya, Kak Ben belum pernah pacaran sama sekali. Setiap ditanya jawabannya belum ada yang srek, atau terkadang ia berkata, “Oddy, kalau jodoh pasti nggak bakal kemana kok, kakak kan juga masih kuliah, masih banyak hal yang ingin kakak pikirkan, ikut organisasi, ikut sayemabara, belum lagi kalau dikejar-kejar deadline, mana ada waktu buat mikirin pacaran ?” begitu ujarnya.
Tapi satu yang pasti, kakakku tidak pernah pacaran bukan karena dia jelek atau kurang laku. Kalau boleh dibilang, kakaku luar bisa gantengnya, tubuhnya tinggi, kulitnya putih dengan otot tubuhnya yang six pack, mana mungkin tak ada cewek yang tak mau pacaran dengannya. Sebut saja Kak Lina, Putri, Echa, Gita, Rena, yang datang bergantian setiap hari ke rumah mencari kak Ben, sampai-sampai harus aku yang menjadi tumbal untuk menemui mereka, sekedar menyampaikan kalau kak Ben tidak ada dirumah, padahal sebenarnya Kak Ben sedang asik menggambar di kamarnya.
Lain halnya denganku, namaku Melodi Cantika Anggraeni, atau mama, papah, Kak Ben dan teman-teman biasa memanggilku Oddy, katanya biar lebih singkat dan lebih lucu, Aku duduk di bangku kelas tiga SMA. Secara fisik aku sebelas duabelas dengan kakaku, dia ganteng aku cantik, namun sayang kadang otakku lemot dan tak seencer Kak Ben. Sering aku merajuk sama mamah dan papah, kenapa sih Kak Ben kok pintar banget, apa karena ia anak pertama sehingga asi yang Kak Ben minum masih banyak mengandung zat-zat yang membuat otak menjadi pintar ?, sedangkan aku anak kedua hanya mendapatkan sisanya Kak Ben ?, “Hahah” semua orang tertawa tak terkecuali Kak Ben. Kak Ben bilang dengan nada bercanda “mungkin kamu nggak disusuin sama mama, kamu disusuin sama bibi”, “Hushh” mama menyela Kak Ben dan membelaku, papah yang duduk disampingku bilang bahwa Kak Ben pintar karena dia rajin belajar, “makanya kamu tiru Kak Ben, sering-sering minta ajarin sama Kak Ben, biar ikutan pintar” begitu ujarnya.
Sejak saat itu, aku sering sekali belajar di kamar Kak Ben, meskipun sibuk, Kak Ben dengan telaten mengajariku, menerangkan secara detail segala rumus yang susah dicerna oleh otak lemotku. Terkadang kami belajar sampai larut malam, hingga aku tertidur di kamar Kak Ben. Tapi ajaibnya, aku selalu terbangun di kamarku sendiri. Aku menduga, Kak Ben lah yang susah payah menggendongku ke kamar. Sewaktu mengjariku, Kak Ben jauh mengasyikan dan sama sekali tak membosankan dibandingkan guru-guru disekolah.
****
Kusadari bahwa kebersamaan yang kualami bersama mamah, papah dan Kak Ben adalah hal terindah dan paling mebahagiakan yang tuhan anugerahkan kepadaku. Hidup di tengah keluarga seperti ini kadang membuatku ingin melupakan dunia diluar sana. Aku tak ingin menukarkan kebersamaaku bersama mereka dengan sesuatu apapun itu, aku ingin semua tetap berjalan seperti ini dan tak pernah ada perubahan sedikitpun.
Namun sayang, sepertinya tuhan ingin menguji hidupku, kebahagiaanku berangsur-angsur menghilang,dimulai ketika mamah meninggal. Saat itu mobil yang ditumpanginya kecelakaan di jalan, meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa mamah tak bisa diselamatkan. Mamah meninggal tanpa seorang keluarga pun ada di sampingnya, karena waktu itu aku, papah dan Kak Ben baru mendapat kabar selang setengah jam kemudian. Aku dan Kak Ben sangat terpukul demi mendapati kepergian mama, terlebih lagi Papah. Beliau tak henti-hentinya menangisi kepergian mamah, wanita yang sudah menemani hidupnya lebih dari 20 tahun lamanya.
Selang sebulan setelah kejadian itu, kesehatan papah perlahan memburuk, mungkin beban pikiran yang dideritanya, serta rasa cinta serta kehilangan yang teramat mendalam menjadi penyebab utamannya. Papah sering sakit-sakitan, sehingga dengan terpaksa, ia keluar dari kantornya, seluruh uang tabungan hasil kerja kerasnya selama ini perlahan habis untuk digunakan berobat olehnya. Puncaknya, Rumah yang sudah sekian lama kami tempati terpaksa dijual, Bi Nani dan Mang Toto terpaksa dipulangkan oleh papah walau sebetulnya kami sudah menganggap mereka seperti keluarga, namun apa boleh buat, kami tak bisa lagi menggaji mereka. Papah, aku dan Kak Ben terpaksa pindah ke rumah kecil di pinggiran kota bandung, meski kecil, namun masih layak untuk ditinggali.
Ternyata tuhan tak rela membiarkan papah sakit terlalu lama, tepat di tengah bulan januari, papah menghembuskan nafas terakhirnya. Aku yang saat itu berada di samping papah menangis se jadi-jadinya, semua airmata yang kupunya kutumpahkan deras-deras, seluruh pipiku basah oleh linangan air mata. Hatiku teramat sakit, untuk kedua kalinya. Orang yang aku sayangi pergi untuk selamanya. Kak Ben yang waktu itu masih di kampus langsung datang, dan sesampainya di rumah sakit, Kak Ben langsung menangis, memeluk dan mengguncang-guncangkan tubuh papah dengan penuh emosi yang mendalam, kemudian ia memeluku sambil menangis dipundakku. Aku pun hanya bisa menumpahkan kesedihan, Kepalaku terasa sangat berat, dan seketika akupun tak lagi kuat untuk skedar menopang tubuhku sendiri. Aku jatuh pingsan waktu itu.
*****
“Kak Ben, aku kangen sama mamah, aku kangen sama papah, aku pengin ketemu mereka, aku pengin sama sama mereka ka” Kataku pada Kak Ben. Aku saat itu tengah terbaring lemah seminggu setelah kematian papah.
“Kak Ben juga kangen sama mereka ddy” Jawab Kak Ben pelan, tatapannya jelas mengisyaratkan kesedihan yang teramat dalam dihatinya. Kak Ben yang biasanya ceria kini tampak muram, wajahnya tak lagi sesegar biasanya, kadang aku melihatnya tengah duduk melamun di beranda depan, pandangannya kosong, pikirannya pergi entah kemana. Diam-diam aku merasa sedikit khawatir dengan perubahan pada diri Kak Ben.
“Kak Ben, Kak Ben nggak kuliah ? sudah seminggu Kak Ben nemenin Oddy dirumah, Oddy udah nggak papa kok ka, Oddy udah bisa nerima semuanya, Oh ya, Kak kakak udah makan ?” “Kakak udah mutusin buat cuti sementara Oddy, kakak mau nemenin kamu dulu, Kak Ben udah makan kok tadi, oh ya sekarang tinggal Oddy yang makan, sebentar kakak ambil dulu”
Kak Ben pun pergi menuju ke meja makan, diambilnya sepiring nasi dengan ikan dan sayur, sejurus kemudian ia datang kembali, dan dengan telaten, ia menyuapi ku. Kak Ben tahu kondisiku masih sangat lemah. Saat itu aku merasa bahwa aku adalah seorang yang sangat beruntung mempunyai kakak sebaik Kak Ben.
Hari-hari yang kulaui berangsur-angsur normal dan membaik. Tapi sekarang Kak Ben lebih mirip papah, selalu pulang larut malam. Memang, semenjak papah meninggal, otomatis, Kak Ben lah yang sekarang menggantikan posisi papah sebagai tulang punggung keluarga. Sekarang Kak Ben bekerja sambilan, entah itu pekerjaan macam apa, Kak Ben tak pernah memberi tahukannya padaku.
Aku merasa telah membebani Kak Ben, selain dia harus menanggung biaya kuliahnya, ia juga harus menanggung biaya sekolahku, belum lagi biaya hidup kita berdua. Aku kasihan pada Kak Ben, ketika malam, ia sering tertidur disofa. Kadang aku diam-diam memperhatikannya dan memandangi wajahnya dari dekat, ada gurat kelelahan tersirat, wajahnya yang dulu putih bersih, perlahan sedikit menghitam, barangkali ia terlalu sering terkena sinar matahari. Badannya terlihat sedikit kurusan. Tanpa kusadari air mataku menitik, hatiku terasa ngilu, tak sepantasnya Kak Ben ikut meangguung beban hidupku. Malam itu, aku tak bisa tidur, aku memikirkan Kak Ben, apa aku berhenti sekolah saja, dan bekerja ? supaya Kak Ben tak lagi terbebani olehku ?, Berulang-ulang aku memikirkannya. Sampai pada keesokan harinya, kuputuskan uuntuk mengutarakannya pada Kak Ben.
“Kak Ben, Oddy pengin ngomong sama kaka, tapi Kak Ben janji jangan marah ya” Kataku pada Kak Ben
“Ngomong apa ddy?” Tanya Kak Ben dengan nada sedikit bingung.
“Begini ka, Oddy udah putusin mau berhenti sekolah, Oddy nggak mau jadi beban buat kakak, kakak kan juga lagi kuliah, pasti perlu uang banyak, belum lagi uang untuk kebutuhan sehari-hari, Oddy nggak tega kalau misalkan hanya kakak yang nyari uang, Oddy juga pengin bantuin Kak Ben, Oddy mau kerja saja,” jawabku dengan sedikit perasan takut.
“Apa Oddy ?, kamu nggak boleh berhenti sekolah, biar kakak yang nyari uang, apalagi kamu sudah kelas 3, sebentar lagi kamu lulus. Apa kata papah, mamah nanti disurga ?, kakak nggak mau disalahin kalau sampai Oddy cuma lulusan SMP hanya gara-gara kakak gak bisa nyari uang baut sekolah Oddy, Sudah, kamu gak usah macem-macem Oddy, kamu fokus sekolah saja. Kakak masih bisa nyari uang buat kita kok,” Jawab Kak Ben dengan nada suara yang sedikit keras
“Tapi.. ka…ben…”
“Udah, nggak ada tapi-tapian, ingat jangan macam-macam Oddy, ya sudah kakak pergi berangkat kuliah dulu, kakak ada kuliah pagi”
Pagi itu, aku merasa ada sedikit kekecewaan di hati Kak Ben terhadapku, tapi aku sungguh tak tega melihat Kak Ben berjuang sendirian memenuhi kebutuhan hidup untuk kami berdua. Maka untuk pertama kalinya, aku benar-benar membangkangi omongan Kak Ben. Pagi itu, aku putuskan untuk tidak masuk sekolah, aku mencari pekerjaan di kota bandung, satu demi satu kios aku datangi, kutanyai pemiliknya, barangkali mereka butuh tenaga kerja, tapi tak ada satu pun yang membutuhkan pekerja tambahan. Teramat letih kaki ini untuk dapat kulangkahkan lagi. Tapi kali ini aku benar-benar tak rela untuk menyerah, aku harus mendapatkan pekerjaan, apapun itu. Sampai pada akhirnya, aku tiba di salah satu kios, dan kebetulan, anak pemilik kios tersebut adalah teman Kak Ben, namanya Kak Gita. Untung saja aku kenal dengan Kak Gita. Dan setelah aku menceritakan apa yang telah terjadi pada aku dan Kak Ben, dia membujuk papahnya untuk mau menerimaku. Saat itulah aku resmi bekerja di situ.
Seminggu berlalu dan Kak Ben tak pernah tahu kalau selama itu pula aku tak masuk sakolah, Kak Ben mengira aku masih masuk karena setiap pagi aku selalu memakai seragam sakolah, sampai pada saat dimana Kak Ben memergokiku sedang menjaga toko. Kebetulan waktu itu Kak Benku sedang berkunjung ke rumah Kak Gita.
“Oddy ngapain kamu disini, bukannya kamu harus sekolah ?” Tanyanya padaku,
“Git, kenapa Oddy bisa ada disini ?” Lanjutnya seakan akan mengintrogasi gita
“Mmmm… “ Kak Gita lantas bingung untuk menjawab apa, mungkin perasaannya agak sedikit tak enak denganku.
“Kak..Maafin Oddy kak,” balasku.
“Apa-apaan ini Oddy, Ayo pulang, Kak Ben mau dengar penjelasan kamu di rumah!” Paksa Kak Ben, sembari tangannya menggenggam tanganku dan aku pun ditarik olehnya.
“Ben,,.. ben” ujar Kak Gita, rasa-rasa tak ada lagi usaha yang bisa dilakukan olehnya. Kak Benku mungkin sedang dalam keadaan bingung sekarang, adik semata wayang yang sangat dipercayainnya telah berbohong.
Sesampainya dirumah, Kak Ben langsung menghujamiku dengan seribu pertanyaan yang bersumber dari rasa keingintahuannya.
“Kak, aku bisa jelasin kak, aku bekerja di toko Kak Gita itu karena aku pengin ngebantuin kakak, Oddy gek tega, dan Oddy gak rela kalau Kak Ben musti bekerja sendirian, Oddy juga pengin ngebantuin Kakak buat cari uang” Kataku pada Kak Ben, air mataku mengalir deras.
“Oddy, Kak Ben benar-benar kecewa kali ini, adik Kak Ben sendiri tega ngebohongi Kak Ben, Apa selama ini Kak Ben pernah mengeluh sewaktu mencari uang buat kita ? engga kan, Kak Ben ini kan laki-laki, yang paling tua dan satu-satunya kakak mu, ya wajar kalau Kak Ben harus menanggung beban kamu juga, Tapi balesan kamu apa ?, Kak Ben nyuruh kamu buat belajar, tapi kamu malah bekerja !,” Ujar Kak Ben agak membentak, raut wajahnya jelas terlihat emosi, matanya sedikit berair. Saat itu hatiku benar-benar merasa bersalah telah mengecewakan Kak Ben.
Setelah malam itu, hubungan aku dan Kak Ben agak sedikit merenggang, Kak Ben sekarang jauh lebih possesif, dan kaku, aku tidak boleh keluar dari rumah, bahkan berkunjung ke rumah teman saja tak diizinkan, aku hanya boleh keluar rumah untuk sekolah, dan itupun kak ben ikut mengantarku sampai ke pintu gerbang sekolah. Kak Ben sekarang keras padaku. Sebenarnya aku tak inggin berfikir bahwa Kak Ben yang sekarang jahat padaku, sungguh aku tak ingin berfikir seperti itu.
Hingga pada akhirnya, aku sedikit tertekan, aku merasa depresi, aku merasa terasing dari lingkungan. Bahkan aku pernah mencoba untuk bunuh diri saja dengan berusaha mengiris pergelangan tanganku, tapi Kak Ben memergoki aksi gilaku, dia kemudian memegangi lenganku, dan membentak-bentakku. Aku saat itu hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Lalu kemudian Kak Ben memeluku, menenangkanku. Dan seketika keheningan dapat aku rasakan saat itu.
“Ddy, maafin Kak Ben kalau akhir-akhir ini Kak Ben sering keras sama kamu, itu bukan karena Kak Ben gak sayang lagi sama Oddy, jujur Kak Ben sayang banget sama Oddy, Oddy satu-satunya keluarga yang Kak Ben punya, papah mamah udah ngga ada, Kak Ben gak mau sendirian. Kak Ben pengin supaya Oddy bisa pintar, bisa jadi orang yang berguna, Kak Ben pengin Oddy sekolah terus, maafin Kak Ben kalau Kak Ben kasar. Kak Ben bukan bermaksud seperti itu”
Saat itu akau merasakan tubuh kakakku bergetar, semacam ada persaan takut untuk kehilangannku, aku merasakan air mata Kak Ben jatuh di pundakku, Saat itu yang kulakukan adalah terus memeluk Kak Ben erat, aku menangis…
****
Kini aku bisa melanjutkan cita-citaku untuk kuliah di jurusan yang sama dengan Kak Ben. Walaupun sekarang Kak Ben dan aku terpisah oleh samudra pasifik yang luas, karena Kak Ben kuliah di Amerika. Kak Ben lulus dari ITB sebagai lulusan terbaik dan mendapat beasiswa keluar negeri.
Akhirnya aku tahu, Kak Ben, dengan kelembutannya sebagai seorang kakak, dengan ketegasan serta pendiriannya yang teguh dalam mendidiku, meski kadang keras dan menjengkelkan, Kan Ben adalah kado terindah dalam hidupku, aku bisa seperti sekarang karena Kak Ben yang senantiasa membimbingku. Terimaksihku untukmu kak benku tersayang, Suatu hari nanti Oddy pasti bisa seperti dirimu. Oddy juga ingin ke Amerika …
TAMAT

0 Komentar