Si Jeki


Cerpen ini Terinspirasi Dari "Sesuatu" Bernama Jeki
Sayup-sayup adzan subuh terdengar berkumandang. Suarnya menggema menerobos keheningan fajar, melintasi celah-celah dedaunan basah yang masih tertutup embun, mengikuti setiap lekukan gang-gang  rumah penduduk, hingga terbang menyatu mengikuti irama angin pagi. Kebanyakan orang masih terbuai dalam mimpinya, sesekali raut wajahnya berubah. Dalam dimensi mimpi yang tanpa batasan pasti, mereka bebas melakukan apa saja. Berkreasi sembari berekspresi sesuka hati nurani, berperang melawan musuh layaknya pangeran Diponegoro, menjadi presiden dan berpidato di depan khalayak ramai seperti Barack Obama, atau bahkan menjelma menjadi sesosok penyair besar macam Jalaludin Ar-Rumi. Semua suka-suka si empunya mimpi.
Berbeda halnya di kediaman Pak Sofyan, atau orang-orang sering memanggilnya Pak “topeng monyet”.  Rumah kecil berdinding bambu, dengan atap-atap genting lusuh kehitaman, serta lantai rumah yang hanya beralaskan tanah, terlihat terang bermodalkan sebuah lampu neon yang menggantung di langit-langit ruang tamunya. Pak Sofyan, Pria sepuh berusia 50 tahun itu hidup seorang diri. Menurut kabar yang didengar, istrinya telah lama meninggal sedangkan anak perempuan semata wayangnya pergi entah kemana, tak ada yang tahu keberadaannya, masih hidup atau sudah mati ?, hanya tuhan yang tahu. Meski begitu, Pak Sofyan adalah seorang yang ramah dan mudah bergaul dengan tetangga sekitarnya. Ia tak segan untuk menolong seseorang jika memang dibutuhkan. Profesi sebagai tukang topeng monyet  keliling sudah dilakoninya selama 5 tahun. Hanya dari situ lah modal hidup yang dimilikinya. Usianya yang sudah tak lagi muda mengerutkan niatnya untuk bekerja di proyek pembangunan.
Begitu adzan subuh selesai menggema, Pak Sofyan bergegas bangkit dari tempat duduk kayunya. Dilangkahkan kaki-kaki tuannya menuju ke kamar tidurnya. Ia mencari sarung kotak-kotak miliknya, yang merupakan satu-satunya sekaligus favoritnya untuk dipakai sholat berjamaah di masjid. Setelah sarung itu didapatkannya, ia berjalan menuju pintu keluar. Dikenakannya sandal jepit, dan kemudian ia pun pergi kemasjid dengan suasana hati yang senang seperti biasannya.
Pukul 6 pagi, matahari terlihat menyingsing, menyapa si cantik venus yang sedari malam begitu asyik menggantung seorang diri di ufuk timur. Sinar matahari yang terpancar teramatlah elok untuk dapat dilukiskan dengan kata-kata puitis sekalipun. Lazuardi seakan merona beriaskan semburat merah jingga di sepanjang wajah manisnya. Auranya menghangatkan, mengajak burung-burung gereja bertengger diranting bercabang kering untuk kemudian bersenandung merdu, memanjatkan kidung-kidung alam yang teramat indah untuk sekedar didengar gendang telinga.
Pak Sofyan menghapiri teman baiknya, Jeki, ya begitu ia memberinya nama. Jeki merupakan kera yang ia beli di pasar binatang di daerah Jakarta sekitar 5 tahun yang lalu, waktu itu Jeki masih kecil sehingga Pak Sofyan dapat membelinya dengan harga yang cukup murah. Jeki adalah seorang monyet yang pintar, dengan mudah ia bisa mengikuti apa saja yang diajarkan oleh pawangnya. Boleh dibilang sebuah keajaiban, atau bisa juga sebuah keberuntungan. Pak Sofyan hanya harus melatih Jeki beberapa kali saja, setelah itu Jeki langsung bisa menuruti  semua perintah diinginkan olehnya.

“Jeki, kamu sudah bangun ?” tanyanya  sembari mengelus-ngelus kepala Jeki.

Keekkk,, keeek,, keeek” Jeki membalas dalam bahasanya, mulutnya sedikt menganga, memperlihatkan gigi-gigi kecilnya dan bola matanya yang terlihat berbinar. Wajahnya terlihat begitu semangat, senyumnya pun sesekali mengembang.

“Kenapa Jek ?, Laper ya,?, Nanti aku bawakan pisang untukmu, oke !” Ujar Pak Sofyan pada Jeki.

“Keeekkk,, keeekk, keeek” Jawab Jeki masih dalam bahasanya, Sepertinya ia memang sudah lapar.

Pak Sofyan bergegas ke belakang rumah, di petiknya beberapa buah pisang masak dari tandannya, lantas ia kembali ketempat dimana Jeki berada.

“Ini jek, makan yang banyak ya, hari ini kita keliling kecamatan , ayo makan, monyet pintar” kata Pak Sofyan dengan nada suara yang lembut, seperti suara seorang ayah pada anaknya.  

Mungkin saja, kebersamaan mereka selama lima tahun telah menjadikan ikatan batin yang kuat diantara keduannya. Hubungan yang terjalin bukan lagi antara hewan peliharaan dengan pemiliknya, tapi lebih seperti keluarga.
Jeki pun terlihat lahap menikmati buah pisang yang diberikan oleh tuannya, sampai-sampai kulit pisangnya juga ikut dimakan. “Keek..keeekk..keek” sesekali terdengar nada suaranya yang girang.
Selesai memberi makan Jeki, Pak Sofyan pun bergegas menyiapkan peralatan yang hendak dibawa untuk pertunjukan topeng monyetnya. Sebuah kotak berisi bermacam peralatan seperti gendang, gerobak mini, payung, dan tentu saja baju berukuran super kecil kesukaan Jeki. Diperiksa satu-satu  dengan teliti, barang kali ada yang belum masuk atau terselip. Setelah semua peralatan siap, Pak Sofyan pun menghampiri Jeki, menggendongnya dipangkuan sembari mengikatkan tali rantai pada lehernya. Disisi satu sisi Pak Sofyan tidak tega melakyukannya, namun disisi lain, ia harus memasangnya agar Jeki mau menurut dengannya. Kadang kala Jeki suka iseng kepada para penontonnya, alih-alih menampilkan pertunjukan, Jeki malah menghampiri penonton dan menariki bajunya. Kejadian seperti itu sering terulang sehingga terpaksa Jeki diikat lehernya. Jeki sesekali meronta ketika hendak diikatkan tali di lehernya, namun akhir-akhir ini dia mulai terbiasa dan menuruti kehendak majikannya.
Jalan desa sudah ramai dengan lalu lalang penduduk, banyak anak-anak SD, SMP, dan SMA, ada yang bergerombol, ada yang sendiri-sendiri, mereka berjalan pelan dengan wajah penuh keceriaan. Sesekali tawa renyah terdengar dari kelompok anak SMA, kemudian berganti anak SD, dan SMP. Kelihatannya seru sekali apa yang mereka bicarakan. Ada yang membahas bagaimana hukum newton 1 bekerja, “bahwa benda yang diam akan cenderung diam, sedangkan benda yang bergerak lurus akan terus bergerak”, atau ada pula yang terdengar asik membicarakan gossip perselingkuhan artis ibukota. Apapun itu, Kesemuannya seakan membangkitkan sebuah file memory pada otak Pak Sofyan. Betapa rindunya ia akan masa-masa mudanya yang penuh dengan keceriaan. Gelak tawa sahabat-sahabatnya masih jelas terngiang di relung telingannya. Ingin sekali ia kembali ke masa lalu, meski itu mustahil untuk bisa dilakukannya.
Berjalan sepanjang 15 Km tak lantas membuat Pak Sofyan jengah, semangatnya justru meletup-letup dengan begitu hebatnya. Apalagi tatkala melihat raut muka Jeki yang selalu ceria, seakan ada dorongan energy yang merasuk ke dalam sukmanya. Cape, penat sama sekali tak dirasakan olehnya. Seberapapun jarak yang akan ditempuh olehnya bukanlah sebuah masalah, baginya menghibur orang adalah tugas mulia. Tak ada perasaan yang lebih menyenangkan dihatinya ketimbang melihat tawa lepas dari para penikmat topeng monyetnya. Bersahut-sahutan serta memberikan tepuk tangan yang begitu kencang ketika pertunjukan yang dibawakan olehnya telah selesai. Seberapapun bayaran yang diterimanya, Pak Sofyan selalu berucap syukur Alhamdulillah. Meski semua membutuhkannya, namun  uang bukanlah sesuatu hal yang utama, yang terpenting adalah ia bisa berbagi kebahagiaan dengan para penikmat topeng monyetnya.
Di sebuah trotoar jalan yang agak ramai, Pak Sofyan menggelar karpet berwarna merah sambil sesekali berteriak kencang “Ayo bapak ibu, neng, mas, adek, Datang kemari, ada Jeki yang mau tampil, ayo datang kemari”. Satu persatu, orang-orang mulai datang menghampiri. Selang beberapa menit, orang-orang pun banyak yang berkerumun untuk menyaksikan aksi si Jeki.

“Ya, ibu-ibu, bapak-bapak, neng, mas, adek sekalian, selamat datang di pertunjukan topeng monyet kami. Perkenalkan saya Pak Sofyan, sedang monyet lucu yang satu ini namanya Jeki, beri tepuk tangan buat Jeki”Seru Pak Sofyan dengan suara keras dan lantang. Seketika penonton pun menepuk-nepukan tangan sebagai tanda penghormatan untuk Jeki.

“Baiklah, tanpa basa-basi lagi saya tampilkan Jeki”suaranya lagi. Penonton pun bersyorak
Jeki lantas memekik “Keeeekkk keeekkk keeek”, pertanda dirinya tengah siap memberikan hiburan kepada penontonnya.

“Yaa, ini dia si Jeki pergi belanja”  ujar Pak Sofyan.
Secara otomatis, Jeki memakai kaca mata, mengenakan payung, serta membawa keranjang kecil, sambil gayanya berlenggak-lenggok bak ibu-ibu yang hendak membeli sayur di pasar. Penonoton pun tertawa terpingkal-pingkal, begitu juga Pak Sofyan. Sedang Jeki yang tengah asyik dengan perannya terlihat sangat mendalami aktingnya.

“Selanjutnya Jeki naik sepeda”, dan Jeki pun memperagakan apa yang disuruh oleh pawangnya.

“Jeki berjalan mundur, Jeki menyanyi,  Jeki berjoget”  dan seterusnya, bermacam perintah yang diinstruksikan pawangnya berhasil di eksekusi dengan sukses olehnya. Raut wajah penonton pun terlihat gembira dan sangat menikmati pertunjukan yang dibawakankan oleh Jeki. Di penghujung pertunjukan, dengan gaya ala pejabat berdasi, Jeki berkeliling mengitari penonton sambil menyodorkan topi kecil yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung sumbangan seiklasnya.

“Alhamdulilah, terima kasih banyak para penonton yang budiman” begitu ucap Pak Sofyan, sekaligus sebagai tenda petunjukan telah usai.  Jeki pun membawa topi yang berisi penuh dengan uang ribuan. Pak Sofyan lantas mengelus-elus kepala Jeki sebagai tanda terimakasih atas pertunjukan hebatnya  hari ini.

“18, 19, 20.., alhamdulilah 20 ribu” ucap Pak Sofyan dengan nada suara yang amat gembira.
“Wah Jeki, masih pagi begini kita dapat uang banyak, nanti kalau pertunjukan selanjutnya  kayak begini lagi, nanti malam aku beliin kamu pisang kapok, mau nggak ?” ujar Pak Sofyan kepada Jeki.

“Keeekk, keeeek, keeeek,,” ucap Jeki dalam bahasa monyet. Sepertinya ia setuju dengan tawaran si empunya.

Pertunjukan demi pertunjukan pun berlanjut di tiap sudut tempat yang berbeda, diamana ada keramaian, mereka akan membuka pertunjukan disana. Semakin banyak orang yang melihat, Pak Sofyan merasa semakin bahagia. Itu berarti, semakin banyak pula orang yang ia hibur dan dibuat tertawa. Karena menghibur orang mendapat pahala, itu berarti, Pak Sofyan dan Jeki banyak memanen pahala hari itu.
Hari berujung petang manakala sinar matahari mulai menghilang menuju peraduannya, membawa seluruh sinar terang yang dimilikinya. Perlahan, langit pun berubah kelam, sedang angin turut berhembus kencang. Satu per satu lampu kota mulai menyala, membentuk titik-titik cahaya yang menghisa kota Jakarta. Jalan-jalan terlihat sesak dipenuhi mobil dan bus-bus kota. Orang-orang Jakarta baru saja pulang dari tempatnya bekerja, mengejar waktu untuk segera sampai dirumah. Melepas rindu dengan anak-anaknya setelah ditinggal seharian bekerja.
Seandainya saja Pak Sofyan masih punya keluarga, tentu ia akan sangat bahagia. Angannya terbang membahana, berharap anak perempuan yang entah di belahan bumi mana, bisa menangkap sinyal-sinyal rindu yang dibawa bersamanya. Pikiran tuanya berusaha keras merangkai momen indah yang seharusnya bisa ia rasakan bersama anak dan istrinya jika keduanya masih ada. Ketika pulang bekerja, akan ada yang mengucapkan selamat datang, membawakan peralatan topeng monyetnya, menawarinya makan, atau bahkan sekedar menanyakan bagaimana pertunjukannya hari ini. Pikiran-pikiran seperti itu sangat diidam-idamkan olehnya. Walau kenyataannya sama sekali berbeda. Ketika pulang ke rumah, tak ada seorangpun disana, tak ada seorangpun yang menyapanya, menawarinya kopi, atau membawakan peralatan topeng monyetnya. Yang ada hanyalah ruangan gelap dan sepi dimana Pak Sofyan harus menyalakan sendiri lampu-lampu sumber penerangan malamnya.
Untung lah, Pak Sofyan masih punya Jeki, meski ia hanya seekor monyet, tapi cukup baginya untuk memberi warna pelangi dalam hidupnya. Ia menjadi teman pertunjukan sekaligus keluarga baginya. Jeki yang selalu ada menemaninya, Jeki yang selalu ada di sampingnya, Jeki yang selalu bertingkah manja di pangkuannya, bak oase di padang pasir hatinya yang kering dan tandus ditinggal keluarganya.

Malam itu, sesuai janjinya, Jeki mendapatkan pisang kapok super besar dari majikannya. Kerjanya bagus, sehingga pundi-pundi uang pun dirasa cukup untuk bekal hidup sekedar dua atau tiga hari kedepan.

“Keeekk.. keeeeek” Begitu kata yang Jeki ucapkan. Barang kali ia berkata terimakasih pada Pak Sofyan. Ia begitu senang, terlihat dari matanya yang berbinar dan raut mukanya yang menapilkan senyuman kegembiraan. Indah dan lucu sekali kelihataannya.

“Terimakasih kembali Jeki, terimakasih untuk selalu menemaniku, terimakasih untuk kesediaanmu memperpanjang hidupku, terimakasih telah memberi warna indah dalam hidupku, terimakasih telah membawa kebahagiaan untuku dan juga untuk orang-orang yang melihat pertunjukan topeng monyet kita”

Pak Sofyan lantas melepas tali yang melingkar di leher jeki, kemudian ia memasukan jeki ke dalam kandangnya.
“Istirahat ya, besok kita berpetualang lagi, selamat malam”

Dan bintang diangkasa pun berkelip indah, membentuk rasio-rasio cantik dengan bentukan-bentuka yang sarat makna. Dewi bulan pun seakan tersenyum menyaksikan persahabatan dua insan yang berbeda rupa dan jenisnya. Lantunan merdu nada-nada alam menjadi penutup hari yang menyenangkan.

“Keeekk… keeekk” Jeki bersuara, mengatakan selamat malam untuk  sang empunya. Lantas matanya terlelap, mengakhiri aktiitasnya hiri ini.



Previous
Next Post »
0 Komentar