Showing posts with label Dongeng. Show all posts
Showing posts with label Dongeng. Show all posts

Bawang Merah, Bawang Putih

Add Comment
 
        Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

Putri dan Kacang

Add Comment
Pengarang: H. C. Andersen, Denmark

Dahulu kala, hiduplah seorang pangeran yang ingin menikah dengan putri sejati. Dia mengembara ke seluruh dunia untuk mencarinya. Dia bertemu dengan banyak putri, namun, bagaimana dia bisa tahu kalau mereka itu putri sejati? Pangeran pun pulang dengan hati yang sedih.

Pada suatu malam, terjadilah badai yang dahsyat. Petir menggelar, kilat sambar-menyambar dan hujan lebat. Mendadak, terdengar suaru ketukan di pintu mereka. Pangeran pun beranjak untuk membukakan pintu.

Tampak seorang wanita muda berdiri di depan pintu, dan ia mengaku bahwa ia adalah putri sejati. Tetapi, sungguh aneh penampilannya di bawah hujan! Air hujan membasahi rambutnya, pakaiannya, dan sepatunya.

Pangeran segera memikirkan suatu cara untuk membuktikan kalau wanita itu adalah benar-benar putri sejati. Pangeran pergi ke kamar tidur, melepaskan semua seprei dan selimutnya, kemudian menaruh sebutir kacang di dasar ranjang. Lalu, ditumpukkannya dua puluh kasur di atas ranjang itu. Di sanalah, putri akan berbaring sepanjang malam.

Pagi harinya, mereka bertanya kepada wanita muda itu, "Apakah tidurmu nyenyak?"

"Oh, tidak." sahutnya. "Aku hampir tidak tidur. Aku merasa, sepertinya aku berbaring di atas sesuatu yang keras dan sekarang, sekujur tubuhku pegal-pegal semua. Mengerikan sekali!"

Sekarang, yakin lah mereka kalau wanita muda itu adalah putri sejati, sebab, siapa lagi yang akan bisa merasakan sebutir kacang kecil di bawah setumpuk kasur itu?

Akhirnya, pangeran menemukan putri sejati impiannya, dan dengan gembira meminangnya menjadi istrinya.

Sumber gambar: Google Image

Gadis Kecil Penjual Korek Api

Add Comment
Pengarang: H. C. Andersen, Denmark

Hari terakhir tahun ini terasa begitu dingin dan gelap, dengan hujan salju yang deras. Seorang gadis kecil yang malang, tanpa tudung kepala dan alas kaki, melangkah di jalan-jalan kota, dengan sebungkus korek api di celemeknya. Kakinya merah biru karena kedinginan, dan belum ada orang yang membeli korek apinya, sepanjang hari itu, atau memberinya uang receh.

Dia gemetar kedinginan dan lapar. Sinar-sinar lampu memancar keluar dari setiap jendela dan aroma makanan lezat semerbak, karena malam itu adalah malam Tahun Baru. Gadis kecil itu meringkuk di sudut jalan, di antara dua rumah.

Dia tidak berani pulang ke rumahnya, karena satu batang korek api pun tak berhasil di jualnya, dan sudah pasti ayahnya akan memukulinya. Di rumah, dinginnya sama saja, angin akan tetap bertiup lewat lobang-lobang di atap mereka.

Tangannya hampir beku karena kedinginan, dan tiba-tiba saja gadis itu teringat sesuatu, "Ah, kalau kunyalakan satu batang saja koreknya, pasti akan membantu!"

Dikeluarkannya satu batang korek api dari bungkusnnya dan digosokkannya ke tembok. Nyala api yang terang terasa hangat ketika ia mendekatkan sebelan tangannya lagi ke atas api. Baginya, seakan-akan ia sedang duduk di depan sebuah tungku besi besar dari tembaga yang mengkilap dan hiasan tembaga. Diulurkannya kedua kakinya untuk menghangatkannya juga, tetapi apinya padam!

Digosoknya lagi satu batang korek api lain ke tembok dan apinya seakan mengubah tembok itu menjadi tembus pandang. Dia seperti bisa melihat ke dalam ruangan, di mana sudah tersaji angsa panggang yang masih panas di atas meja. Yang lebih indah lagi adalah, angsa itu melompat turun dari meja dan berjalan ke arah gadis kecil itu! Lalu, korek apinya padam.

Digosoknya satu korek api lagi dan mendapati dirnya di bawah sebatang pohon Natal paling cantik yang pernah dilihatnya. Ribuan lampu hias dan hiasan lain memenuhi ranting-ranting hijaunya. Diulurkannya tangan mungilnya meraih lampi-lampu itu, namun korek api itu pun padam.

Lampu-lampu Natal terbang semakin tinggi dan bertambah tinggi, sampai akhirnya tampak bagaikan bintang-bintang di langit. Lalu, dilihatnya sebuah bintang jatuh, lalu pikirnya, "Ada orang yang mati." Neneknya, yang dulu sangat menyayanginya sekarang sudah meninggal dunia, pernah memberitahunya, bahwa kalau ada bintang jatuh, itu berarti ada satu jiwa yang kembali ke Tuhan.

Korek api berikutnya yang digosoknya ke tembok menampilkan sosok neneknya yang sudah tua itu, sedang berdiri di tengah cahaya terang. Gadis kecil itu berseru, "Nenek, bawa aku bersamamu! Aku tahu, kalau koreknya padama, Nenek akan menghilang, seperti tungku itu, angsa panggang itu, dan pohon Natal yang cantik itu."

Cepat-cepat dinyalankannya sebanyak mungkin korek api, sebisanya. Nyala api bersinar begitu terang, sampai terasa bagaikan siang hari. Neneknya menggendong gadis kecil itu dan mereka terbang ke langit.

Pagi harinya, gadis itu ditemukan tewas membeku, bersandar di tembok, tetapi tampak senyuman tersungging di wajahnya. Seorang pejalan kaki yang melihat segenggam korek api yang sudah hangus di tangannya mengatakan, "Pasti dia sudah berusaha untuk menghangatkan badannya."

Tidak seorang pun tahu semua keajaiban yang dilihatnya, dan sekarang dia berada bersama neneknya di Tahun Baru.

Sumber gambar: Google Image

Suami yang Selalu Benar

Add Comment
Pengarang: H. C. Andersen

Di sebuah peternakan tua, tinggallah seorang pertani bersama istrinya. Tidak banyak yang mereka miliki. Benda paling berharga milik mereka hanyalah seekor kuda.

Mereka selalu mengendarai kuda ini ke kota. Sesekali, tetangga mereka meminjamnya dan memberikan sesuatu sebagai imbalan karena telah memakai kuda mereka.

Selang beberapa waktu, mereka berpikir bahwa mungkin mereka bisa menemukan sesuatu yang lebih berguna bagi mereka ketimbang kuda tersebut.

Mereka tidak tahu apa itu, tetapi sang istri mengatakan, "Kamu tahu apa yang terbaik, Suamiku. Bawalah kudamu ke pasar hari ini dan barterlah dengan barang yang cocok. Apa pun yang kamu lakukan, aku setuju."

Jalan berdebu, sebab banyak orang yang mengendarai kuda mereka ke pasar. Di antara orang-orang itu, Pak Petani melihat seseorang yang sedang mengendarai seekor sapi yang tampak sehat.

"Aku yakin, sapi itu akan menghasilkan banyak susu," pikir Pak Petani. "Itu akan menjadi barter yang bagus."

Pak Petani kemudian menyapa pemilik sapi dan mengatakan, "Aku yakin, kudaku lebih berharga daripada sapimu, tetapi sapi akan lebih berguna bagiku, jadi, kalau kamu setuju, ayo kita barter!" ajak Pak Petani kepada sang Pemilik Sapi.

Sang Pemilik Sapi setuju. Kemudian, Pak Petani berjalan pulang. Lalu, dia pun berpikir, ada baiknya juga dia melihat-lihat pasar itu, maka dikendarainya sapinya kesana.

Belum jauh berjalan, Pak Petani bertemu dengan seseorang yang sedang menuntun seekor domba yang gemuk, dengan bulunya yang sangat tebal. Pak Petani berpikir, domba itu pasti akan sangat menikmati rumput hijau di rumahnya, dan pada saat musim dingin, domba bisa dimasukkan ke dalam rumah mereka.

Dia kemudian memutuskan untuk melakukan barter dan mereka langsung sepakat. Tak lama kemudian, Pak Petani melihat seseorang yang sedang mengapit seekor angsa yang besar di lengannya. Pak Petani kemudian berpikir, bagaimana jika ia menukarkan kambing miliknya dengan angsa milik orang itu. Ia kemudian mengajak pemilik angsa untuk menukarkan angsa miliknya dengan kambing milik Pak Petani, yang kemudian diterima dengan senang hati oleh pemilik angsa.

Pak Petani kemudian melanjutkan perjalanan pulangnya. Di tengah perjalanan pulang, Pak Petani melewati sebuah ladang kentang, di mana dilihatnya seekor ayam yang kakinya diikatkan menggunakan seutas tali. Ayam itu sangat lincah, berkotek-kotek, berjalan kian kemari, bahkan bisa mengedipkan kedua matanya!

Pak Petani berpikir, "Itu adalah ayam yang paling bagus yang pernahku lihat seumur hidupku! Aku sangat ingin untuk memilikinya!"

Maka, pergilah dia menemui pemilik ayam tersebut dan bertanya, "Maukah kamu menukar ayam milikmu itu dengan angsa milikku?" Tentu saja, pemilik ayam sama sekali tidak keberatan.

Sekarang, setelah mengerjakan begitu banyak urusan, Pak Petani pun merasakan penat dan letih. Dia perlu makan dan minum, maka berjalan lah ia menuju ke sebuah penginapan.

Ketika ia tiba, seorang pemuda baru saja keluar dari penginapan itu membawa sebuah karung yang besar. Pak Petani bertanya, "Apa isi karungmu itu?"

Sahut pemuda itu, "Apel-apel busuk untuk makanan babi."

"Oh, sayang sekali," kata Pak Petani. "Sebaiknya kubawa pulang saja untuk istriku. Tahun lalu, pohon apel kami yang sudah tua hanya menghasilkan sebuah apel dan kami menyimpan apel itu didalama lemari, hingga layu dan busuk. Kata istriku, itu sangat berharga, dan sekarang dia akan melihat sekarung apel seperti itu!"

"Apa yang akan aku terima sebagai gantinya?" tanya pemuda itu.

"Baiklah, kamu boleh mengambil ayamku sebagai gantinya." jawab Pak Petani. Lalu, Pak Petani mengambil sekarung apel itu ke dalam penginapan dan menaruhnya di atas kompor, sebelum duduk di depan meja makan. Tetapi, ternyata ia lupa bahwa kompornya menyala, dan tak lama kemudian, para tamu disana bisa mendengarkan suara, "Hiss-ss, hiss-ss." Apel-apelnya sudah menjadi apel panggang!

Pak Petani kemudian menceritakan kepada para tamu bagaimana ia bisa mendapatkan sekarung apel busuk. Di antara tamu penginapan, ada dua orang Inggris dan salah seorang dari mereka mengatakan, "Kamu akan menghadapi masalah dengan istrimu, kalau sudah pulang nanti."

"Oh, tidak akan," jawab Pak Petani Tua itu dengan tenang. "Dia hanya akan mengatakan, 'Suamiku selalu benar!'."

Kata orang Inggris itu, "Kami berani bertaruh seratus ribu untuk setiap seratus apel busuk, kamu pasti akan menghadapi masalah dengan istrimu."

"Baiklah!" jawab Pak Petani Tua, dan kedua orang Inggris itu mengikutinya dengan kereta kuda. Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di sebuah rumah kecil milik petani tua itu.

Istrinya menyapanya dengan hangat, dan sepertinya tidak memperhatikan karung itu. Kata Pak Petani, "Aku menukar kuda kita dengan seekor sapi."

"Bagus sekali," kata istrinya. "Kita punya rumput yang subur untuknya, dan kita bisa memiliki banyak susu, mentega, dan keju."

"Tetapi aku menukar sapi itu dengan domba."

"Itu lebih bagus lagi!" seru istrinya. "Kita punya rumput yang subur untuknya, dan kita akan mendapatkan susu dan keju dari domba itu, jaket dan kaus kaki dari benang wol! Sapi tidak akan memberikan semua itu."

"Tetapi, aku menukarkan domba itu dengan seekor angsa."

"Oh, kalau begitu, kita bisa menikmati angsa panggang tahun ini. Kita akan menunggu dia sampai gemuk, sebelum memanggangnya. Kamu benar-benar tahu cara menyenangkanku!"

"Tetapi, aku menukar angsa itu dengan seekor ayam."

"Wah, itu barter yang bagus. Ayam akan bisa bertelur, dan kita akan punya banyak anak ayam, lalu peternakan ayam. Aku tidak sabar lagi! Kamu memang hebat dan selalu benar!"

"Lalu, aku menukar ayan itu dengan sekarung apel yang sudah busuk."

"Sungguh kamu melakukannya?" seru istrinya riang. "Suamiku sayang, tahukah kamu, setelah kamu berangkat pagi ini, aku memikirkan apa yang bisa kumasak untukmu, untuk makan malam. Kupikir, akan kubuatkan telur dadar dan daging sapi dengan rempah manis, tetapi aku harus pergi dan meminta rempah itu dari kepala sekolah, sebab, ia memiliki banyak sekali rempah-rempah. Ketika aku meminta segenggam rempah-rempah darinya, dia pelit sekali, Katanya, 'Aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan kepadamu, sekalipun hanya sebuah apel busuk dari kebunku.'. Tapi sekarang, aku bisa memberinya sepuluh buah atau bahkan sekarung apel busuk. Kupikir, itu pasti akan lucu sekali!" Istri petani pun kemudian merangkul dan mencium suaminya.

Kedua orang Inggris itu juga tertawa terbahak-bahak dan kata mereka, "Baiklah, sepertinya kita memang sudah kalah taruhan, tetapi semuanya sudah setimpal, melihat semua yang kamu lakukan! Bahkan, kamu membuat istrimu sangat bahagia!"

Dengan senang hati, mereka memberikan uang yang menjadi hak petani itu sebelum mereka pergi.

Sumber gambar: Google Image

Baju Baru Kaisar

Add Comment
 Pengarang: H. C. Anderson, Denmark

Dahulu kala, ada seorang Kaisar yang sangat suka mengenakan baju-baju baru. Dia menghabiskan banyak waktu hanya untuk memandangi pantulan dirinya di depan cermin, sehingga, ia tidak punya waktu lagi untuk mengerjakan hal-hal lain bagi kerajaanya. Dia selalu ingin mengenakan baju-baju baru di pagi hari, di siang hari, hingga di malam hari.

Pada suatu hari, dua orang asing datang di kotanya, mengaku bahwa mereka pandai menenun dan sanggup menghasilkan kain yang sangat istimewa. Kain hasil tenunan mereka memiliki warna-warni dan pola yang khusus, dan dengan kualitas sedemikian tingginya, sehingga kain-kain itu tidak terlihat, kecuali oleh orang-orang yang pintar.

Ketika sang Kaisar mendengar itu, ia berpikir, "Itu bagus. Aku akan tahu, siapa saja orang yang pintar dan siapa saja orang yang bodoh."

Kaisar pun dengan segera memanggil kedua orang itu untuk membuatkan baju-baju baru baginyam dari kain istimewa ini. Sebuah ruangan diberikan kepada mereka di istana, dan semua benang-benang emas yang mereka pinta. Mereka kemudian menyembunyikan benang-benang emas itu didalam tas dan berpura-pura bekerja keras.

Beberapa hari kemudian, Kaisar tidak sabar lagi untuk segera melihat baju barunya, tetapi dia khawatir tidak akan bisa melihatnya. Pikirnya, "Aku tidak mau orang mengira aku ini tidak pantas untuk menjadi seorang Kaisar, kalau aku tidak bisa melihat baju tersebut." Maka, Kaisar pun mengetus seorang Mentri seniornya yang sudah tua dan bijaksana, untuk melihatnya terlebih dahulu.

Ketika Mentri Senior tersebut mengunjungi para penenun di ruangan mereka, ruangannya kosong. "Aku tidak bisa melihat bajunya!" pikirnya panik, tetapi, dia tidak mau mengakuinya. Para penenun itu memintanya untuk mendekat dan mengagumi keindahan warna-warninya dan pola-polanya. Sang Mentri Senior pun berpikir, "Apakah aku bodoh?"

Ketika para penenun menanyakan pendapatnya mengenai hasil kerja mereka, dengan cepat ia menjawab, "Indah sekali! Tidak pernah kulihat hasil karya yang sebagus ini sebelumnya. Aku harus memberitahukannya kepada Kaisar!" Setelah sang Mentri Senior berlalu dari ruangan itu, kedua penipu tersebut pun ketawa terbahak-bahak.

Tak lama kemudian, Kaisar muncul untuk melihatnya sendiri. Dia melihat, dan melihat lagi, tetapi tidak ada yang dilihatnya. Namun, ia tidak mau mengakuinya dan dianggap bodoh, maka Kaisar berseru, "Hasil karya yang sangat menakjubkan! Aku tidak sabar untuk segera memakai baju baruku!"

Tibalah harinya bagi Kaisar untuk mengenakan pakaian istimewanya ini pada acara pawai keliling kota. Para penenun membantunya untuk memakai baju barunya, walaupun Kaisar tidak bisa melihat apa-apa. Kaisar hanya merasa kedinginan, tetapi dia diam saja, dan tidak hentinya berputar-putar dicermin hanya untuk mengagumi dirinya sendiri.

Ketika ia berangkat ke kota, semua orang yang disekelilingnya mengatakan, "Wah, cocok sekali! Kaisar tampak sangat tampan!" Mereka juga tidak mau mengakui bahwa mereka tidak melihat apa-apa.

Semua orang yang melihat Kaisar di luar istana telah mendengar kabar tentang baju istimewa yang akan dipakai oleh Kaisar. Begitu Kaisar muncul, mereka syok. Tetapi, dengan sopan mereka tetap berseru-seru, "Hidup Kaisar! Hidup baju baru Kaisar!" Tidak seorang pun yang mau ketahuan kalau mereka tidak melihat apa-apa dan dianggap bodoh.

Mendadak, terdengar jelas suara teriakan seorang anak kecil, "Tetapi, dia tidak memakai baju!"

Semua orang terdiam, tetapi Kaisar tahu bahwa anak kecil itu berkata jujur. Kaisar pun kembali ke istana dengan kepala yang terangkat tinggi-tinggi.

Si Kerudung Merah

Add Comment
Pengarang: Charles Perrault, Perancis

Dahulu kala, ada seorang gadis kecil yang dibuatkan kerudung merah oleh neneknya. Gadis kecil itu sangat menyukainya, sampai-sampai dia sering sekali terlihat menggunakan kerudung merah, dan akhirnya, ia dipanggil si Kerudung Merah.

Pada suatu hari, ibunya membuat kue dan berkata kepada si Kerudung Merah, "Bawa kue ini dan pergilah ke rumah nenekmu. Dia sedang sakit dan mungkin kue ini bisa membuatnya senang. Hati-hati jalannya, supaya kamu tidak jatuh dan kuenya rusak, dan jangan berhenti untuk berbicara dengan orang yang tidak kamu kenal."

Neneknya tinggal jauh di dalam hutan. belum lama si Kerudung Merah berjalan keluar dari desanya, dia bertemu dengan seekor serigala.

Kata serigala, "Selamat siang, kamu mau kemana?"

Gadis kecil itu lupa akan pesan ibunya mengenai untuk tidak berbicara kepada orang yang tidak dikenal. Dengan sopannya, gadis kecil itu membalas sapaan serigala dan berkata, "Aku akan pergi ke rumah nenekku, untuk membawakan kue untuknya."

"Dan, dimana ia tinggal?"

"Tidak jauh disini. Di rumah pertama di bawah pohon ek besar itu."

Pikir serigala, "Anak ini akan lebih lezat daripada nenek tua itu, tetapi aku bisa mendapatkan keduanya!"

Kata serigala kepada gadis kecil itu, "Coba lihat bunga-bunga cantik itu. Mungkin, nenekmu akan suka menerima bunga."

Gadis kecil itu memandang sekelilingnya dan pikirnya, benar juga, apa yang dikatakan serigala. Neneknya mungkin akan sangat senang menerima bunga-bunga yang cantik ini. Gadis kecil itu pun mulai memetik bunga-bunga yang berada di sekelilingnya, sementara serigala yang licik itu segera berlari menuju ke rumah nenek gadis kecil itu.

Sesampainya di rumah nenek si Kerudung Merah, serigala pun mengetok pintu rumah nenek, dan nenek pun bertanya, "Siapa itu?"

"Cucu kecilmu," jawab serigala. Ia berusaha untuk meniru suara si Kerudung Merah. "Aku membawakan kue."

"Tarik saja talinya dan palang pintunya akan terangkat," jawab nenek. "Aku terlalu lemah untuk bangun."

Serigala menarik talinya dan palang pintu terangkat. Begitu nenek melihat kepala serigala di ambang pintu, nenek langsung melompat, kemudian berlari untuk bersembunyi di dapur.

Serigala menggunakan tudung kepala nenek dan naik ke tempat tidur nenek. Serigala menutupi badannya dengan selimut dan menunggu kedatang si Kerudung Merah.

Setibanya si Kerudung Merah di rumah neneknya, si Kerudung Merah itu terkejut mendengar suara keras dan serak serigala yang menyuruhnya untuk mengangkat palang pintu. Akan tetapi, si Kerudung Merah mengira, mungkin neneknya memang sedang demam dan suaranya menjadi serak. Gadis kecil itu kemudian masuk dan berjalan menuju ke tempat tidur neneknya.

Si Kerudung Merah berkata, "Nenek, mudah-mudahan nenek cepat sembuh. Aku membawakan kue untuk nenek."

Setelah si Kerudung Merah lebih dekat lagi, dikirinya serigala itu adalah neneknya, dengan tudung kepala separuh menutupi matanya, dan itu terlihat begitu seram.

"Oh, nenek, telingamu besar sekali!" seru si Kerudung Merah.

"Agar dapat lebih jelas untuk mendengarkanmu, Sayang." jawab si serigala.

"Oh, nenek, matamu besar sekali!" lanjut si Kerudung Merah.

"Supaya lebih jelas melihatmu, Sayang." balas si serigala lagi.

"Oh, nenek, gigimu besar sekali!"

"Agar lebih mudah untuk melahapmu!" si serigala melompat turun dari tempat tidur.

Si Kerudung Merah berlari keluar sambil menjerit-jerit. Kebetulan seorang pemburu sedang lewat di sana dan ditembaknya serigala hingga mati.

Lalu, si Kerudung Merah masuk ke dalam rumah, kemudian mencari-cari neneknya. Si Kerudung Merah memanggil neneknya, yang segera keluar dari tempat persembunyiannya dan segera memeluk cucunya.

Nenek kemudian mengundang pemburu yang tadi membunuh serigala yang licik tersebut, untuk minum teh bersama, dan mereka menikmati sajian yang lezat.

Si Kerudung Merah berjanji, bahwa lain waktu, dia akan menjauh dari orang yang tidak dikenal.