Chapter 2
Hujan di langit Jakarta
"YES FINALLY CHAPTER 2 YAH"
SELAMAT MEMBACA
SELAMAT MEMBACA
Yg belum baca chapter 1... bisa klik disini
“Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting, airnya airnya airnya…..”
“Airnya di obok-obok ada ikannya kecil-kecil pada mabok”, usil si Gilang tatkala melihat adiknya Yona sedang asik jongkok di depan gubuk bamboo, Ya sebuah gubuk yang tidaklah mewah kalau tidak ingin dibilang reot itu adalah rumahnya, tempat tinggalnya, gubuk bamboo yang hanya berlantaikan tanah yang mungkin dapat sewaktu-waktu roboh terkena tiupan angin, dan bahkan kebanjiran sewaktu hujan datang mengguyur. Seperti yang terjadi sore ini, Langit Jakarta yang sedari siang tertutup gumpalan awan Cumulonimbus, kini menangis dan menumpah ruahkan air ke seluruh penjuru ibukota.
“Ahhh, kakak … bukannya ngebantuin Yona malah ngeledekin mulu” ntar aku bilangin sama Kakek loh, biar ka Gilang dimarahin, pamaaaaaan, pamaaaan, Kak Gilang nih ngeledekin Yona mulu” Teriak Yona yang sedari tadi bingung ngelanjutin syair lagu yang entah judulnya apa, pun ia lupa juga.
Mendapati jawaban adiknya yang pinter ngeles plus cari perhatian, membuat Gilang pun beranjak dari tempat duduknya yang hanya berupa dua lapis karton bekas mie instan, Perlahan mendekati pintu, meletakan tangannya bamboo yang boleh dibilang “Kusen” pintu bagi gubuk reotnya. Sambil melihat Yona yang kini asik bermain-main air hujan dengan mengadahkan kedua tangannya keatas, berharap butiran-butiran Kristal air hujan dapat menempel, Gilang, si bocah yang kelihatannya jahil jikalau sudah melihat wajah polos adiknya, senyum-senyum dengan pandangan licik, bersiap menimpali jawaban Yona tadi.
“Heeii, beraninya ngadu sama kakek ya, kakek lagi gak ada di rumah wee, Awas ntar Yona gak aku bagi jatah konser kemarin kita di kereta loh yah ! (mengancam Yona sambil melebarkan senyum kemenangannya !), hehehe,,
“Huwwh, Curang nih kak Gilang, kan gak boleh gitu, kata kakek kan kita musti adil terhadap sesame,iya dehh, Yona gak bilang-bilang kakek, heheh “ Yona yang memang pandai ngeles pun tak kehabisan kata-kata untuk menyerang aBangnya.
“Nah gitu dong, itu baru namanya adik kakak” Timpal Gilang, dengan ekspresi luar biasa menyebalkan.
Lantaran ingin juga bermain air, Gilang pun mendekati adiknya, ia berjalan dan tak sampai sepuluh detik kini ia sudah berdiri tepat di samping kiri Yona. Hujan yang mengguyur pun kian deras, menciptakan percikan-percikan kecil di tanah , membentuk lingkaran selebar telapak tangan. Daun-daun pohon besar tak jauh dari gubuk reot mereka senantiasa bergoyang, beriringan mengikuti irama angin membentuk paduan yang sungguh harmoni. Sambil ikut-ikutan menengadahkan tangan kiri keatas, tangan kanan Gilang malah usil menyipratkan air ke muka Yona, yang sebelumnya memang sudah basah lantaran sedari tadi hujan turun Yona memang sedang asik mainan air. Yona yang masih polos itupun ikutan meniru kakaknya, mencipratkan air hujan yang ditampung tangan kananya kearah muka Gilang. Kini Kakak beradik itu terlihat tengah asik sekali bermain air, sesekali teriakan-teriakan kecil berkumandang lantaran ada salah seorang yang terkena cipratan air dari yang lainnya. Gelak tawa khas kedua anak itu memecah keheningan senja, bahkan sesekali dua kali, mereka terdengar tengah asyik melantunkan temabng-temBang baru yang akan mereka pakai sebagai “senjata tempur” di kereta.
“Kakak-kakak, besok kan hari sabtu kak, kita ikut kereta yang ke bandung aja gimana kak” ( Yona berusaha membujuk kakaknya, selagi jemari-jemari tangannya asik membuat kuBangan di tanah yang basah)
“Siapa tahu kita ketemu kak Damar lagi, Yona pengin liat kakak yang indah itu lagi, yaaa kak Gilang”. Begitulah Yona, bocah 6 tahun yang pemalu, namun berubah centil luar biasa tak kala sudah mengenal baik seseorang.
“Oia kak, dan lagi, siapa tahu kali ini giliran kakak yang dikasih uang 20.000 an kayak 2 minggu yang lalu pas Yona yang dikasih sama kak Damar, ingat gak kak ??, hehehh. (gimana mungkin Gilang bisa lupa kalau Yona yang tadinya malau-malu langsung nyamber duit 20.000 an yang dikasih sama kak Damar,udah gitu dipegang kenceng tu duit, lantaran takut di rebut sama Gilang )
“heh, gak mau ah, ntar disamber lagi sama kamu duitnya” ketus Gilang sambil mengingat kejadian tempo kemarin.
“Kak Gilaaaang, Yona pengin deh sekolah biar bisa kaya kak Damar itu, Yona pengin Banget bisa liat yang indah-indah kaya kakak itu, kalau kak Gilang pengin sekolah enggak?”.
Yona yang tadi asik mainan air, kini mendadak memberikan perhatian yang serius kepada kak Gilang, berharap jawaban yang diutarakannya segera di respon kakaknya, walau ia tahu, isi dari jawaban kakaknya kadang tak lebih dari bocah seumuran 5 tahun, tapi gaya bicaranya gaul kayak remaja-remaja abg alay.
“ehmm, (Gilang berdehek, sok merapikan kerah leher di bajunya, yang padahal hanya berupa kos oblong, sok ikut-ikutan gaya alay pemain sinetron yang kadang sesekali ia tonton di stasiun kereta sambil menunggu kereta objekannya berangkat).
“kak Gilang pengin sih sekolah, tapi gimana dong dek, kan kak Gilang kan juga gak tahu alamatnya Kak Damar, walaupun kak Gilang dikasih alamatnya kemarin tetep aja kan kak Gilang gak tahu, lah orang yang kak Gilang tahu kan Cuma stasiun kereta ke satasiun kereta, sama jalan pulang dari stasiun kereta yang paling cuma satu kiloan ke ruamah, heheh..” Meskipun pandangannya tertuju ke gumapalan awan hitam yang menggantung dilangit senja, namun eksperesi senyum jelas terlihat mengemBang di wajah polosnya, menyiratkan sejuta asa di dalam benaknya.
“Kak, gimana kalau kita minta diantarkan kakek saja ke bandung ? siapa tahu kakek mau ? Yona yang bilang deh kak”
“Hus, kakek sibuk tau Yona, lagian kalau kita ke bandung, kita mau tinggal dimana ? kita kan gak ada saudara di sana ?, kakek ntar juga kasihan, masa ditinggal sendirian? “ Celoteh Gilang, sambil sesekali mencubiti hidung adiknya.
“Hmmm” Yona yang mendengar jawaban itu dari kakaknya mendadak terdiam, pandangannya tertunduk dalam, seolah-olah mengerti omongan yang baru saja kakaknya ucapkan, padahal pandangannya tertuju pada uang receh 500an yang entah dari mana, hanyut terbawa air hujan.
“Asikkkk, nemu duit Yeyeyeyeye…” Yona terlihat begitu sumringah mendapati duit 500 perak yang mungkin tak ada harganya bagi sebagian orang yang hanya cukup untuk membeli permen 5 buah saja.
“Ihh, Yona dengerin omongan kakak gak tadi ???, huh…” Ekspresi Gilang terlihat kesal mendapati Yona yang begitu sumringah lantaran menemukan duit 500, bukan karena ia merasa ter achukan, tapi lantaran kenapa bukannya ia yang nemuin duit itu melainkan adikanya. Alhasil perebutan sengit terjadi di antara keduanya.
“Yona, kak Gilang bagi yah, kan tadi kata Yona kita harus adil dalam berbagi” (mencolek tangan adiknya sambil memasang senyuman gombal)
“yee kak Gilang, giliran Yona nemu duit aja….huffhh wee…” (Yona menjulurkan lidah, bagai anjing demi menyindir kakaknya)
Byurrrrrrr,, Gilang terpleset lantaran tanah yang di pijaknya licin tegenang air, seketika itu pula tangannya menarik lengan Yona, alhasil mereka berduaa jatuh terjerembab ke tanah, membuat rook putih berenda milik Yona berubah warna menjadi coklat.
“ahahhahah” gelak tawa terpecah diantara mulut-mulut mungil keduanya. Bukannya, jatuh kemudian bergegas untuk beranjak berdiri eh malah keduanya asik bergulingan ditanah, mungkin lantaaran sudah kepalang basah kali yah .
“Gilang, Yona, kok kalian basah-basahan mainan air hujan?, Nanti sakit, cepat masuk sanah ke rumah”. Seketika gelak tawa yang tadi membahana mendadak terhenti seketika, mereka melihat sesosok lelaki tua, berpakaian serba hitam, mengenakan paying hitam di tangan kanannya dengan membawa kresek hitam di tangan kirinya sambil mengangkat tangan tangan kirinya, yang kemudian dikepalkan tangan itu, sebagai tanda perintah,
“Stttt,, itu ada kakek, ayo kita cepat masuk Yona !,” (bisik Gilang, sambil menarik lengan Yona yang masih berlumuran tanah basah, ke dalam gubuk reotnya.
Dua menit berlalu, sosok lelaki tua yang lebih akrab disapa oleh orang-orang dengan sebutan Koh Acen, dengan perawakan yang kurus kering namun bisa di tebak ia adalah seorang tionghoa hanya dari raut wajahnya yang sudah timbul keriput disana-sini, Koh Acen yang seorang duda tanpa anak itu, berbaik hati merawat kedua bocah, Gilang dan Yona, yang tak ada hubungan darah sama sekali dengannya, dia hanya kasihan ketika melihat, bayi yang mungkin hanya berjarak 1 tahunan itu tergeletak di pinggiran jalan sepi menuju rumahnya sekitar 5 tahunan yang lalu, sejak saat itulah koh acen resmi di daulat menjadi kakek bagi kedua bocah itu. Karena umurnya yang sudah renta atau hamper sekitar 80 tahunan, koh acen hanya melewati sisa-sisa harinya dengan berkeliling menawarkan semir sepatu, itupun terkadang tak ada satu orang pun yang menyemirkan sepatu kepadanya. Oleh karena, kondisi fisiknya yang memang sudah tak muda lagi, disertai kebutuhan ekonomi yang kian hari kian bertambah saja, tak ada jalan lain kecuali si kakek membiarkan kedua “Cucunya” itu untuk menjajakan suarnya di setiap gerbong-gerbong kereta. Mungkin jikalau kehidupannya lebih baik, mana mungkin kakek ini tega membiarkan bocah-bocah sekecil mereka untuk mencari uang “
“Heii, Gilang Yona, kenapa kalian mainan air haaa?, nanti kalau kalian sakit gimana, kan kakek juga yang repot !, Ya sudah, masuk kedalam, mandi, ganti baju kalian, nati kita makan, kalian pasti lapar kan ?, kakek bawa mie ayam kesukaan kalian !”
“Iya kakek, maafin Gilang sama Yona, tedi gak sengaja kepleset, ia kan Yona ?” (sambil menepuk pundak Yona)
“Iya kek, tadi kka Gilang yang kepleset eh pake narik-narik Yona segala, jadi ikutan basah deh”
Setelah member sedikit penjelasan kepada sang kakek, kedua bocah bak ini pun nyelonong masuk kedalam bersiap mandi, dan berganti pakaian. Koh acen pun mengikuti di belakangnya, kemudian pergi mengambil 2 buah mangkuk, dan membagi yang hanya sebungkus mie ayam untuk Gilang dan Yona.
Karena yang kedua bocah itu terapkan tatkala mandi adalah gaya Bebek, maka baru 5 menit berselang, mereka berdua sudah duduk manis, lesehan di atas kardus mie instan.
“Ini mie ayam buat Gilang dan yang ini buat Yona, ayo makan mumpung masih panas, ujan-ujan begini enaknya kan makan yang panas-panas” (menyodorkan mie yang masing-masing hanya berisi setengah mangkuk)
“Loh kakek gak ikut makan, ?” celetuk si kecil Yona
“iya nih, bagian kakek mana, kok gak ada ?” (Gilang sok-sokan menimpali, padahal sedari tadi matanya hanya terpaku pada setengah mangkuk mie ayam yang masih panas, yang sudah tak sabar ingin segera dilahapnya).
“Kakaek udah makan tadi di tempat mamang penjualnya, sudah kalian makan saja, pasti lapar kan?” (kakek terpakasa berbohong, padahal ia tidak makan lantaran uangnya hanya cukup untuk membeli sebungkus mie)
“Nyam-nyam enaaaaaaaaaakkkknya keki” gumam si Gilang sembari mengacungkan jempol keatas..
“hmm enak kek, oia ni kakek makan lagi yah mie nya (Yona yang telah menyantap beberapa sendok mie pun kini memaksa kakeknya untuk ikut menikmikmati mie jatahnya juga, di layangkannya sendok ke mulut kakeknya” Dan kakekpun tak kuasa terharu melihat tingkah laku cucu kecilnya itu. Raut bahagia bercampur sedih bergelayut memenuhi relung hati koh Acen. Beruntung sekali, tuhan telah mengirimkan malaikat-malaikat ingusan itu kedalam hidupnya, setidaknya mereka telah member secercah warna pelangi di hidupnya.
“Kakek kakek, boleh enggak Yona sekolah kayak temen-temen Yona yang lain”
Mendengar pertanyaan Yona, koh acen hanya mampu terdiam, ditengah kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan, dan usianya yang kian renta ditambah lagi kondisi ekonominya yang pas pasan, sekali lagi koh acen hanya mampu terdiam, pandangannya koong jauh kedepan, ia hanya bergumam, seandainya tuhan memberinya rezeki yang cukup, kakek di dunia mana yang tidak ingin melihat cucunya tiap pagi berangkat kesekolah sambil berpamitan mencium tangan kanannya.
“keeek, boleh kan?”
“hush, Yona… jangan maksa gitu” (ucap Gilang sambil menimpuk Yona dengan butiran kecil tanah.
“iya, Yona sama Gilang boleh sekolah, tapi nanti yah kalau kakek sudah punya uang “ (jawaban itu ungkin sudah ke sekian kali Yona dengar, tapi belum ada realisasinya, meski begitu Yona tidak pernah protes kepada kiakeknya, Yona bahkan terlalu saying barang hanya mengucapkan “Hah” sekalipun sebagai tanda protes)
“sudah selesaaiii ” ujar Yona dan Gilang serempak (bersamaan itu pula terdengar kumandang adzan maghrib dari mushola yang hanya berjarak 50 an meter dari gubuk reot koh acen)
“Nah , kalian berdua sudah selesai makan, sekarang waktunya kalian berdua sholat, meskipun hujan, kita sholat di mushola yah, biar pahalanya makin gede kalau berjamaan, kakek ambil paying dulu ya, kalian berdua siap-siap, ambil perlengkapan sholat kalian”
“Baik kakek” (sebenarnya tanpa disuruh seperti itupun kedua bocah itu sudah terbiasa, otomatis langsung pergi ke langgar begitu terdengar kumandang adzan membaha.
Berangkatlah mereka ke mushola, langkah kaki ketiganya pun terdengar merdu walau tanpa irama, menginjak-injak genangan air hujan, melepas tawa sambil sahut-sahutan dengan anak-anak tetangga sebelah yang juga hendak pergi kemushola.
Hujan deras menjadi penutup hari bagi kedua bocah itu , , , hari berkesan yang akan menghantarkannya menuju hari-hari esok penuh warna dan cerita bagi perjalanan hidupnya yang sungguh masih amat begitu panjang.

0 Komentar