REALITA CONTEK MENCONTEK dari SD-KULIAH ??
Realita nyontek itu udah kaya Puru yah ? Mengembang dan besar, tapi bukannya menguntungkan, karena itu adalah penyakit. Nyontek atau sebagian bilang ngepek udah jadi tradisi banget di dunia pendidikan Indonesia, mulai dari sekolah dasar yang notabene masih polos-polosnya sampai ke jenjang tertinggi yaitu perkuliahan. Sebenarnya siapa yang salah ? apakah dosennya ? Gurunya ? atau si anak itu sendiri ?, Tentunya akan sangat dilematis apabila kita memilih salah satunya, karena ketiganya masih terkait dalam satu rangkaian, gak fear kalau kita hanya mennyalahkan si anak atau sebaliknya.
Metode nyontek sudah sangat berkembang pesat seiring perubahan zaman dan majunya teknologi. Penulis gak kehilangan update, karena dulunya penulispun pernah bahkan sering yang namanya mencontek sama temen selama ujian, minimal penulis cukup tahu lah seluk beluk dunia contek mencontek. Sewaktu SD metode mencontek yang paling popular adalah dengan LKLK CDLBalias lirik kanan lirik kiri colek depan lirik belakang, didukung dengan situasi kelas yang kondusif, aksi contek mencontek sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Bukan tidak ada teguran dari guru, namun teguran yang ada ibarat formalitas semata dan sesudahnya hanyalah dianggap sebagai angin lalu.
Beranjak memasuki masa Esempe (Sekolah masang pongkor) dimana orang-orang yang ada berasal dari daerah (kampong) yang berbeda, hal ini tentunya akan menambah perbendaharaan trik mencontek yang baik dan benar. Yang popular waktu itu adalah dengan cara memasukan modulbelajar ke dalam slorok (lubang meja guna meletakan tas). Peraturannya, ketika guru lengah, tangan beraksi, mata melihat dan tangan kanan mencatat pada lembar jawab yang ada. Dan metode tersebut akan sangat efektif ketika anda duduk di deretan bangku belakang.
Ucapkan selamat tinggal pada masa esempe, dunia baru yang lebih kompleks dan menuntut kita untuk survive telah datang, Dialah SMA. Dengan komposisi kelas yang begitu hetero,dimana masing-masing individu punya skill andalan tersendiri. Metode yang sangat-sangat sering digunakan adalah catatan kecil. Prinsipnya Buat tulisan sekecil mungkin agar lebih banyak materi yang bisa dimuat didalamnya. Meski kadang tak presisi, tak jarang yang lebih memilih metode ini karena dinilai lebih aman. Selain itu, adapula metode Purba, Yaitu dengan sandi-sandi morse menggunakan anggota tubuh seperti tangan, kepala, dsb. Metode mencontek seperti ini 100% efektif untuk type soal pilihan ganda. Hahahahah….
Dan Terakhir memasuki dunia perguruan tinggi, penulis sudah mulai insyaf, penulis tidak akan mencontek kecuali benar-benar mendesak dan pikiran memasuki fase buntu, itupun sudah sangat-sangat jarang sekali dilakukan sewaktu ujian. Sejak masuk di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia yang berbasiskan pertanian tropika. Penulis sadar bahwasanya, Nilai itu penting, namun lebih penting lagi adalah kejujuran dan ilmu yang kita dapat. Dengan sanksi yang begitu tegas berupa pengulangan mata kuliah bagi siapa saja yang mencontek sewaktu ujian membuat hati penulis ciut, dan harus berfiki ulang ketika hendak mencontek. Tapi anehnya, penulis menemukan sejumlah keunikan dimana masih ada saja mahasiswa yang mencontek padahal sudah jelas-jelas dia tahu bahwasanya apabila dia ketahuan mencontek maka akan terkena sanksi. Penulis memberikan 4 jempol untuk mahasiswa seperti itu atas keberaniannya melakukan hal-hal nekat untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan. Jangan pernah bedakan cara mahasiswa mencontek dengan anak sekolahan, karena pasti metodenya tak beda jauh. Yang membuat penulis berdecak kagum adalah mahasiswa ini punya daya kreativitas yang luar biasa, seperti dengan cara mengecilkan slide kuliah sekecilmungkin, kemudian di print out.. hahahahha. Ada pula yang pura-pura meminta izin ke belakang padahal tujuannya 1 yaitu membuka slide kuliah yang mungkin ada di Smartphonenya. Lain lagi dengan cara melihat di catatan facebook yang baru ditulisnya tadi malam.dan masih banyak lagi.
Sudah saatnya kita berfikir dan bersikap lebih dewasa, Kita sudah bisa membedakan mana yang yang benar dan mana yang salah, namunn sekali lagi egolah yang bertindak. Come on…. Kita bukan anak kecil lagi, bersaing lah dengan cara sehat. Hargai teman-teman kita yang sudah jujur, belajar mati-matian walau semalam suntuk, tapi mereka jujur. Seenggaknya kita tahu lah, ada usaha pasti ada hasil, bukan berarti usaha kita dengan cara mencontek,, bukan begitu !.
Ayo bantulah pemerintah dalam memberantas bibit-bibit korupsi selagin kita bisa memulainya dari sendiri. Bangsa Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar jika generasi intelektulanya hanyalah seorang pencontek ulung. Hargai jugalah Dosen-dosen kita, guru-guru kita yang telah mendidik kita, apa pernah mereka menyuruh kita untuk melakukan hal seperti itu ? Ayooo koreksi diri…
Salam Bloggers J

0 Komentar