Showing posts with label ban mobil. Show all posts
Showing posts with label ban mobil. Show all posts

Cermati Hal Ini Saat Ganti Ban Mobil

Add Comment
Ban buat mobil merupakan komponen yang sangat penting, bagi yang sudah waktunya mengganti ban lama dengan baru harus memperhatikan beberapa hal. Apalagi ingin upgrade ukuran. 

Seiring perkembangan zaman dan persaingan industri ban nasional, beragam merek dunia maupun lokal memenuhi lantai bursa Tanah Air. Harga dan kualitas pun kian bersaing satu sama lain. 
Paling tidak ada 3 hal yang harus diperhatikan jika ingin mengganti ban. Pertama pastikan load index ban minimal sama seperti ban aslinya. Misalnya, Daihatsu Luxio tipe M memiliki load index 91, untuk ban pengganti harus sama, akan lebih baik jika dinaikkan menjadi 92. Load index adalah kemampuan ban untuk membopong beban. 

Hal penting berikutnya, peruntukan ban tersebut. Maksudnya, apakah akan untuk dipakai sport, atau hanya ganti ban standar saja. Sebab beda peruntukan akan berbeda pula varian ban yang dipakai, meski memiliki ukuran yang sama. Perbedaannya akan ada di load index dan speed index (simbol kecepatan). 

Jika ingin mengganti ban yang lebih ekonomis juga harus memperhatikan konversi ukuran. Hal ini penting seandainya akan mengganti dengan ukuran berbeda. Untuk Luxio, ukuran ban standar 195/65-R15. Jika ingin dikonversi bisa memilih 205/60-R15 atau 205/55-R16. Konversi ini berhubungan dengan pembacaan kecepatan di odometer.

Jika ketinggian ban diturunkan jadi 195/55-R15 maka pembacaan di odometer dengan kecepatan sesungguhnya berbeda. Pembacaan di odometer mungkin sudah 100 km/jam, namun actual speed hanya 80-90 km/jam. Demikian juga jika dinaikkan jadi 205/65-R15, maka yang terjadi kebalikannya.

Inilah Kebiasaan Buruk yang Merusak Ban Mobil (Bag.2)

Add Comment
Ba­nyak tindakan atau kebiasaan pengemudi yang bisa merusak atau memperpendek umur pakai ban. Bila dibiarkan, tentu Anda akan mengeluarkan biaya ekstra atau bahkan mengundang bencana.

Agar tidak terjadi, tentu Anda perlu mengetahui beberapa perilaku berken­dara atau pun hal teknis yang kerap terabaikan.

Sering melewati jalan rusak
Menghantam lubang atau melewati jalan rusak merupakan siksaan tersendiri bagi ban. Benturan yang terjadi bisa menyebabkan cedera pada ban seperti pecah atau benjol. Kerusakkan bisa makin parah bila benturan terjadi saat ban dengan tekanan angin di bawah standar yang ditentukan.

Membiarkan mobil diam hingga berminggu-minggu
Membiarkan mobil diam di satu tempat berminggu-minggu bisa menyebabkan flat spot pada ban. Ini adalah bagian ban yang menjadi rata akibat tumpuan pada satu titik dalam jangka waktu lama. Jadi sebaiknya jika ingin menyimpan mobil dalam waktu lama gunaka jack stand untuk mencegah kontak ban dengan lantai garasi.

Membawa beban melampaui load index ban
Load index adalah kemampuan ban dalam menopang beban. Rumusnya, semakin tinggi load index, maka semakin tinggi kemampuan menerima bebannya. Bila ban menahan beban melebihi load index-nya bisa mempercepat keausan tapak dan bahkan merusak dinding ban.

Membiarkan kerikil berdiam di ban
Batu kecil atau kerikil kerap ditemui di sela-sela telapak ban. Jangan sepelekan karena tajamnya kerikil dapat merobek ban dan menyebabkan air masuk ke dalam kontruksi ban. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan merusak kontruksi anyaman kawat baja dalam ban akibat korosi. Kekuatan dan daya tahan ban pun terancam. Atau bahkan tidak bisa dipakai sama sekali.

Tidak melakukan rotasi secara berkala
Rutin melakukan rotasi termasuk salah satu cara untuk memperpanjang usia pakai ban. Rotasi ban mencegah terjadinya keausan tidak merata pada ban. Penukaran sebaiknya dilakukan setiap 5.000 km dengan pola depan-belakang, yaitu ban depan ditukar dengan ban belakang. Bersamaan dengan itu, periksa pula tire wear indicator (TWI) yang berada di alur ban untuk memastikan usia pakainya tidak terlewat.

Inilah Kebiasaan Buruk yang Merusak Ban Mobil (Bag.1)

Add Comment
Ba­nyak tindakan atau kebiasaan pengemudi yang bisa merusak atau memperpendek umur pakai ban. Bila dibiarkan, tentu Anda akan mengeluarkan biaya ekstra atau bahkan mengundang bencana.

Agar tidak terjadi, tentu Anda perlu mengetahui beberapa perilaku berken­dara atau pun hal teknis yang kerap terabaikan.
Mengemudi dengan tekanan angin kurang atau kelebihan angin
Tekanan ban yang tidak sesuai rekomendasi produ­sen mobil menjadi salah sa­tu penyebab kerusakan ban atau mempersingkat usia pakainya. Ban yang kem­pis membuat hambatan gulir (rolling resistence) bertambah, BBM semakin boros, sehingga ban menjadi ekstra panas dan akhirnya mengurangi daya ta­hannya. Bila kondisi ini sering terjadi atau berlangsung dalam jangka waktu lama akan menyebabkan keausan di sisi kiri dan kanan ban dan berpoptensi terhadap ban pecah.

Begitu pula dengan kelebihan angin, juga tidak baik bagi ban. Dengan tekanan angin terlalu tinggi akan menciptakan bentuk menonjol di bagian tengah tapak. Dampaknya, area te­ngah itu menanggung seluruh beban dan bobot mobil hingga memaksanya aus lebih cepat dibanding area pinggir. Plus, daya cengkeram ban menjadi tidak maksimal sehingga sangat berbahaya saat melewati jalan basah.

Jadi yang paling tepat adalah menggunakan ban de­ngan tekanan angin yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Anda bisa melihat aturannya di buku petunjuk berkendara atau label yang ditempel di pilar dekat pintu pengemudi. Di sana tercantum tekanan angin ban depan dan belakang de­ngan kondisi mobil kosong atau membawa penumpang.

Whell alignment tidak sesuai standar
Whell alignment atau keselarasan roda memainkan peranan penting dalam umur pakai ban. Wheel alignment yang tidak tepat akan menyebabkan keausan atau kerusakkan ban.

Contohnya bila camber-nya negatif akan menyebabkan sisi dalam ban akan lebih cepat aus. Sebaliknya, bila camber positif maka sisi luar ban yang menipis lebih dulu. Untuk aplikasi jalan raya camber seharusnya 'nol'.

Wheel alignment yang tidak tepat juga bisa membuat tapak ban bergelombang atau menggelembung. Bahasa kerennya cupping atau scalopping. Agar hal ini tidak terjadi, Anda hanya perlu melakukan penyelarasan ulang di bengkel secara berkala atau setiap 20.000 km.

Mengemudi agresif
Mengemudi dengan agresif antara lain adalah berakselerasi hingga ban spin, menikung dengan kencang dan kerap melakukan hard braking. Perilaku se­perti ini bisa merusak tapak ban. Yang bisa terjadi adalah keausan pada satu titik (spot wear) yang membuat ban tak lagi bundar atau terkikis secara tidak wajar (thread chipping).

Bersambung....

Inilah Ujian yang Harus Dihadapi Agar Ban Lolos SNI

Add Comment
Jalan aspal mulus menjadi idaman para pengendara. Hanya saja, kini semakin sulit mewujudkan hal itu. Karena kondisi jalan yang kian parah kala musim penghujan yang tak kunjung usai. Tidak hanya kubangan, lubang dan jalan rusak bermunculan di mana-mana. Sementara upaya perbaikan jalan, masih terkendala berbagai faktor plus butuh waktu. 

Kondisi ini jelas membuat mobil butuh ban yang andal. Karena inilah satu-satunya bagian mobil yang bersentuhan langsung dengan jalan. Bisa dibayangkan, bila kualitasnya di bawah standar. Untungnya, kondisi ini disadari oleh pemerintah sebagai regulator. Dalam hal ini, produksi ban yang dijual di Tanah Air mesti lulus uji Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal ini berlaku untuk segala ban lokal maupun impor. 
Inilah mekanisme serta standar apa saja yang mesti dipenuhi pabrikan ban untuk bisa merengkuh “stempel” SNI. 

Uji performa
Biasanya performa dilakukan dengan pengujian high speed.  Dengan standar SNI yang dilakukan selama 1 jam. Saat start, kecepatan awal adalah 80% dari angka yang direkomendasikan. Kemudian setelah berjalan 10 menit, kecepatan ditambah hingga batas maksimal, bahkan lebih untuk melihat puncaknya.

Dari kecepatan tinggi bakal terlihat daya gesek plus panas yang terjadi pada ban. Sehingga bisa diketahui tingkat kerusakan serta pada kecepatan tertentu kerusakan ini terjadi. Dari situ terlihat, analisis dan rekomendasi terhadap produk tertentu.

Uji ketahanan (endurance)
Daya tahan ban juga merupakan materi pengujian berikutnya. Prosedur pengujian untuk ban luar kendaraan bermotor yaitu untuk uji endurance  (uji ketahanan terhadap berbagai beban). Untuk pengujian ini butuh waktu 34 jam menurut standar SNI.

Beberapa produsen menambahkan batas uji ketahanan ini. Misalnya yang dilakukan Multistrada hingga 48 jam plus beban. Ini artinya rata-rata setiap produk mengalami uji ketahanan hingga 82 jam atau setara nyaris 3,5 hari nonstop.

Plunger test/energy breaking
Tes ini cocok untuk kondisi di Tanah Air. Kondisi jalan yang tidak rata alias rusak menjadi patokan pengetesan. Setidaknya ada 5 titik di permukaan tapak ban yang secara random ditekan satu batang baja dengan diameter tertentu sesuai peruntukannya. Batang baja itu diberi beban sebesar 294 Nm untuk ban berdiameter 15 inci atau reinforced  hingga 588 Nm pada ukuran yang serupa.

Biasanya data akan keluar setelah pengetesan. Umumnya hasil tes tersebut melebihi angka yang direkomendasikan. Secara kasat mata, bila tidak memenuhi standar, permukaan tapak terlihat tak rata atau benjol.

Bead unseating
Secara prinsip, pengetesan bead unseating  mirip dengan plunger test.  Hanya saja bila plunger test  dilakukan pada tapak, bead unseating  lebih ditekan bagian dinding ban. Kegunaan tes ini, agar saat bermanuver kondisi fisik ban tidak terlipat akibat dorongan beban ke samping. Untuk ban berdiameter 15 inci mesti memenuhi beban 8.895 Nm atau setara dengan 907 kilogram dari samping.

Secara uji materi, bead unseating  merupakan pengujian terberat yang harus dilakukan. Tidak heran kalau poin ini benar-benar diperhatikan. Kalau tidak, potensi ban melipat saat bermanuver cukup besar. 

Inilah Teknologi Mobil yang Ramah Lingkungan

Add Comment
Saat ini teknologi ramah lingkungan pada kendaraan cukup mudah ditemukan. Bahkan beberapa pabrikan mobil sedang hingga besar menawarkan teknologi ramah lingkungan pada setiap kendaraan yang dibangun. Mulai mobil hybrid hidrogen hingga mobil listrik. Kendati demikian hanya ada beberapa model teknologi yang dianggap bisa membuat kondisi lingkungan bersih.

Berikut ini merupakan teknologi mobil yang ramah lingkungan. Teknologi ini pun sudah banyak pengakuan dari berbagai industri otomotif global hingga digunakan untuk kemutakhiran produknya.
Fiat Multi-Air
Dari namanya saja sudah ketahuan jika peruahaan mobil Fiat yang membangun teknologi tersebut. Teknologi ini diklaim bisa mengendalikan konsumsi bahan bakar dan emisi rumah kaca hingga 10 persen. Teknologi Fiat MultiAir adalah sebuah mesin yang dilengkapi dengan sistem komputer yang mampu mengontrol buka-tutup katup intake pada mobil-mobil Fiat dan Chrysler. Nantinya kedua perusahaan berharap bisa memanfaatkan teknologi ini pada seluruh model mobil Fiat dan Chrysler di dunia.

Pendeteksi Ban Kempis
Sudah cukup banyak produsen mobil mengaplikasikan teknologi ini pada beberapa line-up mereka. Seperti halnya Nissan yang menjulukinya Nissan Easy-Fill Tire Alert. Lampu indikator akan segera menyala jika ban kekurangan tekanan air. Sinyal tersebut memerintah pemilik mobil agar menambah tekanan angin di ban. Bila tekanan angin ban berkurang bisa mempengaruhi konsumsi BBM.

Ford EcoBoost
Mesin Ford yang baru mengawali debutnya 2012 silam ini tercatat sebagai salah satu teknologi mesin ramah lingkungan. Rahasia di balik mesin kecil namun bertenaga ini sangat luar biasa. Meski kapasitas mesin namun tenaga dan torsinya luar biasa. Diklaim Ford, mesin tersebut dengan tingkat efisien sebesar 20 persen BBM dan mengurangi 15 persen efek rumah kaca.

Honda Eco Assist
Ketika pabrikan mobil menawarkan mobil hybrid dan plug-in hybrid, namun Honda menawarkan teknologi Honda Eco Assist dengan kesuksesan setara mobil hybrid. Teknologi ini membantu pengendara lebih bijak dalam menekan pedal gas. Teknologi ECON yang terintegrasi pada mesin juga mampu memberika feedback baik hingga mengurangi konsumsi BBM ketika pengendara tahu cara berkendara yang baik.

Teknologi Toyota RAV4 Listrik
Toyota juga berhasil mengembangkan mobil tanpa emisi. Namun dari banyaknya mobil listrik Toyota hanya Toyota RAV4 listrik yang paling diakui kehandalannya. Untuk mencapai tahap sempurna, Toyota bekerjasama dengan Tesla mendesain mesin dan transmisi listrik. Mungkin ini satu-satunya SUV listrik yang ramah lingkungan. Diperkirakan dengan sekali ini mobil tersebut sanggup berjalan hingga 165 km.

Mazda SkyACTIV
Mazda salah satu produsen yang tidak gembar-gembor dengan mobil listrik. Tapi Mazda menawarkan kreasi lainnya lewat teknologi SkyACTIV. Dan terbukti sukses. Teknologi ini membuat decak kagum dunia. Bahkan teknologi mesin SkyACTIV pada mobil-mobil Mazda diakui setara dengan mobil hybrid. Dan menariknya tidak hanya mesin, Mazda juga mengembangkan SkyACTIV pada casis, transmisi hingga bodi. Keempat kombinasi ini membuat nilai efisiensi semakin tinggi. Contohnya pada sektor transmisi. Mazda berhasi mengembangkan transmisi rendah friksi dan casis ringan berkat bahan yang dirahasiakan oleh pihak Mazda. Keunggulan dari teknologi SkyACTIV menyumbang tingkat keiritan konsumsi BBM hingga 30 persen.