Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

500 Tahun Martin Luther Mengkritik Gereja Di Roma

Add Comment
Sejarah agama adalah sejarah umat manusia, sebagaimana dikatakan Joachim Wach dalam buku The Comparative Study of Religion (1969). Dalam sejarah tersebut terpercik konflik, perang, damai, perpecahan agama ke dalam berbagai aliran, dan seterusnya. Perjalanan agama Kristen selama abad pertama Masehi sampai saat ini pun tidak steril dari dinamika itu.

Di daratan Eropa sejak abad ke-5 Gereja Katolik Roma menjadi pusat politik dan budaya Kekristenan yang amat dominan. Namun pada abad 15, Gereja Katolik harus menghadapi kenyataan perkembangan zaman yang begitu pesat di Eropa.

Selama periode Abad Pertengahan hingga Renaissance, berbagai penemuan ilmiah baru telah membuka mata tentang kompleksitas alam semesta. Aktivitas pelayaran dan perdagangan antar samudera jadi hal lumrah dibandingkan abad-abad sebelumnya ketika laut dipandang sebagai sarang monster dan tepi dunia.

Perlahan-lahan peradaban Eropa Abad Pertengahan mulai mengalami krisis. Pada 1347-1351, wabah pes merenggut sekitar 75 juta populasi. Kota-kota Eropa dilanda kepanikan. Sementara itu, aliansi politik tradisional antara Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dan pangeran-pangeran Eropa mulai retak.

Ambruknya peradaban abad pertengahan dan kebangkitan era Renaisans yang bermula dari Italia turut melahirkan para pemikir Kristen yang mulai menentang otoritas tinggi Gereja Katolik.

Lima ratus tahun lalu pada 31 Oktober 1517, seorang biarawan tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah gereja di Wittenberg, kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu gereja, ia nekat memaku daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja Katolik. Peristiwa itu dicatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan Reformasi di daratan Eropa dan seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme.

Berbekal pendidikan magister hukum dari Universitas Erfurt, Luther memutuskan jadi biarawan ketika usianya masih 21 tahun. Perilakunya sangat asketik. Ia rajin berdoa, puasa, bertapa, menahan hawa dingin tanpa selimut dan ritual biarawan lainnya.

Praktik indulgensi sendiri muncul pada abad ke-11 dan 12 saat Perang Salib masih berkobar. Gereja menjelaskannya sebagai "proses penghapusan siksa-siksa temporal di depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah diampuni". Aturan indulgensi, sudah tertuang khususnya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471.

Seiring perjalanan waktu, para pemimpin Gereja memutuskan bahwa membayar sejumlah uang untuk proses indulgensi bisa dilakukan setiap orang, tidak hanya mereka yang terjun ke Perang Salib.

Selama beberapa abad berikutnya, penjualan indulgensi menyebar luas dan mencakup pengampunan dosa atas orang-orang yang sudah meninggal. Hal ini terutama diserukan dalam khotbah-khotbah biarawan Ordo Dominikan, John Tetzel.

Praktik jual beli indulgensi pun jadi jamak. Di bawah kepemimpinan Paus Leo X, Gereja meraup pemasukan besar dari umat yang kemudian dialokasikan untuk membangun kembali Basilika Santo Petrus di Roma. Luther memandang praktik tersebut sebagai perilaku korup. Dari sanalah 95 dalil Luther bermula.

Dalam sebuah debat publik di Leipzig pada 1519, Luther menyatakan bahwa “orang awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan kardinalnya.” Akibatnya, Luther langsung mendapat ancaman ekskomunikasi; tak boleh ikut sakramen.

Pada 1520, Luther menjawab ancaman tersebut dengan menerbitkan tiga risalah terpentingnya, yaitu "Seruan kepada Bangsawan Kristen" yang berpendapat bahwa semua orang Kristen adalah imam dan mendesak para penguasa untuk mengambil jalan Reformasi gereja. Kedua, "Tawanan Babilonia Gereja", yang mengurangi tujuh sakramen menjadi hanya dua berupa pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Ketiga, "Tentang Kebebasan Seorang Kristen" yang mengatakan kepada orang-orang Kristen bahwa mereka sudah terbebas dari hukum Taurat yang kini telah digantikan ikatan cinta pada hukum tersebut.

Dewan Gereja pun terus memanggil Martin Luther, yang segera terlibat perdebatan sengit dengan para pemuka Gereja Katolik hingga dicap bidah dan sesat. Luther sempat melarikan diri ke Kastil Wartburg dan bersembunyi selama sepuluh bulan.

Gerakan Reformasi Luther menuntut menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Jerman. Dampaknya luas, karena orang tidak lagi perlu bergantung pada seorang imam untuk membaca dan menafsirkan Alkitab. Walhasil, legitimasi para padri Katolik pun terancam tergerus.

Selain itu, Luther mengkampanyekan pendidikan universal untuk anak perempuan dan laki-laki di zaman ketika pendidikan hanya bisa diakses oleh orang kaya. Ia juga banyak menulis nyanyian rohani, traktat, berkhotbah tentang pandangan Reformasi dan melakukan serangkaian perjalanan hingga kematiannya pada 1546.

Namun, gerakan Reformasi yang melahirkan pecahan Kristen Protestan ternyata harus dibayar mahal. Serangkaian perang antara kubu Katolik Roma dan Reformis Protestan meletus pada 1524-1648.

Puncak dari konflik berdarah tersebut adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara 1618- 1648 yang menewaskan sekitar 7,5 juta jiwa. Konflik kedua kubu berakhir dengan perjanjian damai Westfalen. Tiga aliran Kristen akhirnya diakui: Katolik Roma, Lutheran dan Calvinis.

Warisan intelektual dan politik Luther mengilhami para tokoh pembaharu Protestan di zamannya seperti Calvin, Zwingli, Knox, dan Cranmer. Pemikiran para pembaharu ini pun pada gilirannya melahirkan berbagai jenis denominasi Protestan, misalnya Gereja Lutheran, Reformed, Anglikan, Anabaptis, dan banyak lagi lainnya yang terus berkembang sampai sekarang.

500 Tahun Setelah Reformasi

Tiap 31 Oktober, berbagai aliran gereja Protestan, khususnya Lutheran, memperingati Reformasi. Tahun ini jadi spesial karena Reformasi Protestan berusia 500 tahun.

Pew Research Center menyambut 500 tahun Reformasi dengan menggelar jajak pendapat yang melibatkan penganut Protestan dan Katolik. Salah satu yang ditanyakan adalah pendangan umat tentang sola fide dan sola scriptura.

Baik sola fide (keselamatan hanya melalui iman), dan sola scriptura (Alkitab sebagai otoritas tertinggi dan tidak memerlukan otoritas gereja) adalah dua dari lima ide revolusioner Martin Luther ketika berjuang melawan otoritas Katolik.

Hasilnya, perbedaan teologis yang pernah memecah Kekristenan di Barat pada 1500an itu kini dipahami dengan cara yang sangat berbeda.

Umat Protestan di Amerika Serikat memiliki sejumlah pandangan berbeda dalam memaknai Reformasi: 52 persen percaya bahwa selain dari Alkitab, orang Kristen harus mencari panduan dari ajaran dan tradisi gereja, sebuah posisi yang secara resmi diambil Gereja Katolik.



Sementara soal iman dan keselamatan, jawaban mayoritas orang Katolik dan Protestan di Eropa merepresentasikan pandangan tradisional Katolik bahwa iman dan amal baik diperlukan untuk mencapai keselamatan. Hanya Norwegia—dengan 51 persen penduduk penganut Protestan—yang mengatakan bahwa hanya imanlah yang mengantarkan manusia pada keselamatan.

Sebanyak 57 persen penganut Protestan di Amerika juga mengatakan bahwa ajaran Katolik lebih punya banyak kemiripan dengan Protestan. Namun ketika diminta untuk mendefinisikan Protestan dalam kata-kata mereka sendiri, 32 persen responden dewasa mengatakan bahwa Protestan bukan Katolik dan 12 persen menyebut mereka sebagai orang Kristen.

Data demografi yang dihimpun oleh Center for The Study of Global Christianity menunjukkan pada tahun 2017 terdapat 560 juta pengikut Kristen Protestan di seluruh dunia. Jumlah ini menyumbang sepertiga dari total populasi umat Kristen dunia.

Benua Afrika menduduki peringkat tertinggi dalam jumlah umat Protestan (228.300.000 jiwa),  disusul Asia (99.040.000). Di Jerman, tempat asal Martin Luther dan Reformasi dilancarkan, Katolik masih mendominasi dengan 42 persen populasi, sementara Protestan sendiri dianut 28 persen penduduk, dan sisanya mengaku tidak terafiliasi dengan keduanya.

Dari data tahun 2015, Amerika Serikat masih menduduki peringkat pertama negeri dengan populasi Protestan terbanyak di dunia (56.177.000), disusul Nigeria (53.106.000) dan Brazil (34.836.000). Indonesia sendiri menempati peringkat ke-9 (18.213.000).

Di Jerman, ibadah peringatan 500 tahun Reformasi diadakan di Stadtkirche, Wittenberg pada Rabu (5/7) lalu. Para pemimpin gereja dari berbagai denominasi seperti Katolik Reformed, Lutheran, dan Methodis turut hadir.

Sedangkan pada peringaran Hari Reformasi ke 499 tahun lalu, Paus Fransiskus hadir bergabung bersama para pemimpin Federasi Lutheran Dunia di Swedia.


"Kita berkesempatan untuk memperbaiki momentum masa lalu dengan bergerak melampaui kontroversi dan perselisihan yang seringkali menghalangi kita untuk saling memahami satu sama lain,” kata Paus pertama yang terpilih dari benua Amerika Latin tersebut.

Lalu, bagaimana dengan ide unifikasi antara Katolik Roma dan Protestan sendiri? 

Dalam sebuah survei yang diadakan di Jerman oleh kantor berita Idea, 45 persen responden menjawab tidak peduli, dan 17 persen tidak bisa/mau menjawab. Hanya 20 persen orang mendukung unifikasi, sementara 18 persen menentangnya. Sebagian besar dari mereka yang menginginkan persatuan adalah para penganut Katolik Roma (66 persen), sementara para anggota gereja Protestan masih menentang unifikasi (59 persen dari keseluruhan penentang).

Pada perayaan Reformasi tahun 2015 lalu di Jerman, suvenir karakter tokoh Martin Luther laris manis. Sebanyak 34 ribu karakter Martin Luther terjual dalam waktu 72 jam. Dikutip Time, seorang juru bicara perusahaan produsen karakter Luther menyebut fenomena itu sebagai "misteri besar."

Rencana Membunuh Marsekal Kesayangan Sukarno

Add Comment
Marsekal Omar Dani dianggap sebagai penghalang dan direncanakan harus mundur atau dibunuh
Dalam arsip Jakarta Embassy Files tanggal 18 Oktober 1965, disebutkan adanya usul menghabisi Marsekal AURI andalan Sukarno.

Masa muda Raden Mas Sutarto akrab dengan kamera. Dia bukan hanya dikenal sebagai juru foto yang sekadar memotret, tetapi juga mahir memegang kamera untuk produksi film. Laki-laki berdarah priyayi Kesunanan Surakarta ini masih mengabdi di Departemen Penerangan Perjuangan Republik Indonesia pada 1965 yang berdarah itu.

Menurut Rosihan Anwar, dalam In Memoriam: Mengenang Yang Wafat (2002), dia juga meliput Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945. Ia juga yang mengusulkan agar tanggal 19 September dijadikan sebagai Hari Film Nasional.

Pada 1963, menurut Mimbar Penerangan (1963), salah satu jabatan yang diemban Sutarto adalah Pembantu Menteri Penerangan Urusan Audio-Visuil. Kala itu Menteri Penerangan sedang dijabat oleh Roeslan Abdulgani.

Sebagai pembantu atau asisten Menteri Penerangan Ruslan Abdulgani, nama Sutarto disebut dalam telegram diplomatik Duta Besar Amerika untuk Indonesia Marshall Green kepada Sekretaris Negara Amerika di Washington tanggal 18 Oktober 1965. (RG 84, Entry P 339, Jakarta Embassy Files, Box 38 (Dummy Box), Folder 3). Dokumen ini terangkum dalam arsip yang disebut: Jakarta Embassy Files yang baru saja dibuka.

“Dokumen ini mencatat percakapan antara staf kedutaan dengan Surtarto, asisten khusus Roeslan Abdulgani,” simpul Sejarawan Brad Simpson, direktur Proyek Dokumentasi Indonesia dan Timor-Timur di Universitas Connecticut yang menjadi penyelia deklasifikasi arsip-arsip tersebut.

Arsip-arsip itu mencatat berbagai aksi-aksi anti-PKI di berbagai daerah, dari Jawa, Medan, Sumatera Selatan, Makassar dan tentu saja Jawa Tengah. Sutarto dengan leluasa berbincang soal pemeriksaan Letnan Kolonel Untung (salah satu pemimpin G30S).

“Sutarto meyakinkan bahwa target penting tentara, juga Kelompok Islam anti-PKI, adalah Subandrio,” tulis Marshall Green dalam dokumen itu. Sutarto juga meyakinkan bahwa PKI dan simpatisannya harus dijatuhkan.

“Kita mungkin harus mengumpulkan Aidit, Njoto dan Lukman di Lapangan Banteng untuk menunjukkan mereka kepada semua orang,” kata Sutarto seperti dikutip Green.

Menurut Brad Simpson, Staf Kedutaan Amerika mencatat Angkatan Darat berencana mengadakan aksi di Kedutaan Republik Rakyat Tiongkok. Tidak lama kemudian, di bawah komando Soeharto, Indonesia memutuskan hubungan diplomatisnya.

Bagi Sutarto, yang lahir pada 27 April 1914 di Solo ini, di tengah suasana kacau pada 1965 itu Soeharto adalah orang yang dapat diandalkan. Soeharto adalah orang kuat kala itu, setidaknya dia adalah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Dalam kekacauan pasca G30S itu, selain Soeharto, orang lain yang dianggap kuat adalah Marsekal Madya Omar Dhani, Menteri Panglima Angkatan Udara (Menpangau).



Orang nomor satu di Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) ini, menurut Salim Said dalam Gestapu 65: PKI, AIDit, Soekarno dan Soeharto (2015), “Hanya ikut petunjuk Soekarno tanpa reserve […] contoh sempurna Sukarnois.”

Waktu kemudian bergerak sangat cepat. Soekarno kemudian dianggap melindungi PKI. Sementara AURI di bawah Omar Dhani pendukung Sukarno. Omar Dhani dengan sendirinya lantas dianggap berbahaya dan musuh yang dianggap berpotensi menghalangi penumpasan PKI.

“Omar Dhani harus berhenti atau kita bunuh dia,” kata Sutarto. Empat perwira tinggi AURI lainnya — Sri Muljono, Surjadarma, Abdoerachamat dan satu orang lagi yang diketahui namanya — harus cabut juga. Kemungkinan nama yang tidak diketahui adalah Ignatius Dewanto, yang menjabat Direktur Intelijen AURI.

Omar Dhani nyatanya tidak dibunuh. Sri Muljono Herlambang menggantikannnya.

“Kira-kira bulan Agustus 1966, Omar Dhani mulai diperiksa Tim Pemeriksa Pusat (Taperpu),” catat buku Tuhan, pergunakanlah hati, pikiran dan tanganku: pledoi Omar Dani (2001).

Ia dituduh telah mengadakan penerbangan rahasia untuk mengambil senjata dari RRT — yang dijanjikan Perdana Menteri Zhou En Lai. Meski dijanjikan 100.000 pucuk, di pengadilan Omar Dani didakwa hanya mengambil 25.000 senapan jenis Tjung.

Penahanan di Rumah Tahanan Militer pun harus dialami Omar Dhani. Pada 4 November 1965, ia telah diberhentikan dengan hormat oleh Presiden. Tak hanya jabatan Menpangau — yang dijabatnya ketika usianya masih sangat muda (38 tahun) -- tapi juga kebebasannya.

Pilot lulusan Taloa itu menjadi tahanan politik selama tiga dekade. Orang yang menjemputnya untuk masuk tahanan adalah kawan sekolahnya, Letnan Kolonel CPM Nicklany.

Dia baru bebas pada 15 Agustus 1995. Omar Dhani sendiri tutup usia pada 2009. Sementara Sutarto, yang di kepalanya sempat terpikir untuk menghabisi Omar Dhani, menghabiskan hidupnya sebagai pensiunan Departemen Penerangan. Nama terakhir ini meninggal lebih dulu pada 2001.


(tirto.id - pet/zen)

di Balik Jatuhnya Zaman Rempah

Add Comment

Kredibel Times - Pada abad ke-16, rempah menjadi komoditi mahal yang diincar oleh bangsa Eropa. Harganya bahkan sempat lebih mahal ketimbang logam mulia seperti emas.
Namun kini, kejayaan rempah telah hilang. Rempah bahkan dijual di warung dan nama mahsyur pulau-pulau penghasil rempah seakan tenggelam. Apa sebabnya?

Jack Turner dalam bukunya "Sejarah Rempah dari Erotisme sampai Imperialisme" (2011) menjelaskan seorang Perancis bernama Pierre Poivre menjadi dalang kejatuhan era rempah. Poivre berambisi berlayar ke Maluku untuk menguasai rempah, padahal saat itu rempah Maluku dikuasai oleh Dutch East India Company (VOC) dari Belanda.

Jangan kira VOC tidak menjaga harta berharganya. Ada berbagai usaha dari yang paling biasa sampai paling keji dilakukan oleh VOC. Semua demi monopoli rempah, khususnya pala dan cengkeh.
"Belanda menjadikan para sultan sebagai boneka lewat sogokan uang, hadiah, dan ancaman. Para penyeludup ditenggelamkan di air, panen ilegal mendapat hukuman mati. Setelah panen pala diberi jeruk nipis sehingga tidak bisa disebarluaskan di tempat lain," tulis Turner.
Usaha Belanda berhasil, pada abad ke-17, harga pala dan cengkeh naik 2.000 persen. Namun di atas langit ada langit, Poivre lebih licik dari Belanda.

Poivre digambarkan sebagai seorang yang cerdas. Memiliki bekal ilmu botani, oportunis, dan pemberani. Perjalanan yang dilalui Poivre ke Maluku cukup berliku. Di tengah perjalanan, saat melewati Selat Bangka, kapalnya diserang oleh Inggris dan tangan kanannya terkena tembakan sehingga harus diamputasi.

Poivre kemudian singgah di Batavia. Karena cacat dan terlihat tak berdaya, Poivre dengan mudah mengumpulkan informasi terkait Maluku juga penyeludupan dan perdagangan ilegal. Di sana ia sadar ada celah dalam sistem pengawasan Belanda.
"Saya lalu menyadari bahwa kepemilikan rempah yang dikendalikan Belanda di Hindia didasari ketidaktahuan dan ketakutan akan perdagangan yang dilakukan negara Eropa lainnya. Seseorang hanya perlu mengetahui hal ini dan cukup berani untuk berbagi informasi tentang jaminan sumber
kemakmuran yang mereka kuasai di salah satu sudut dunia ini," kata Poivre.

Usaha pertama Poivre menuju Maluku kemudian gagal, karena terkendala musim. Saat itu ia juga menyalahkan kondisi kapal sponsor yang buruk.
Pada akhirnya Poivre mendapat pala kelas dua dari kepemilikan Portugis di Timor, dibawa ke Mauritius koloni Perancis di Samudra Hindia. Buah tersebut gagal tumbuh, Poivre menyalahkan rival botanisnya dengan aneka tuduhan seperti cemburu dengan merusak benih pala menggunakan air mendidih atau obat lain.

Kembali Mencoba
Poivre tak menyerah dengan ambisinya. Kembali ke Eropa, ia menulis buku memoar dari perjalanannya ke Maluku. Tulisan itu menjadi penyelamat Poivre. Seorang menteri kabinet pemerintahan Louis XV membacanya dan Poivre diberi sponsor untuk kembali melakukan pelayaran ke Maluku.

Poivre meminta bantuan dua orang untuk mengemudi kapal, yakni Evrad de Tremignon dan le sieur dÉtcheverry. Tahun 1770 mereka berlayar ke Maluku.
Angin keberuntungan tiba kepada Poivre. Anak buahnya, Etcheverry, bertemu orang Belanda di Ambon yang sudah bosan dan kecewa dengan kehidupan pulau tersebut sehingga bersedia membeberkan segala informasi. Informasi paling penting adalah Pulau Gueby, tempat penduduk pulau menanam cengkeh dan pala ilegal di dalam hutan.

Meski sempat dicurigai, akhirnya Poivre diberi ribuan benih pala. Penduduk Gueby mendukung segala gerakan yang merugikan Belanda. Dari pulau tetangga Pulau Gueby dibawakan ratusan benih cengkeh muda.

Poivre berlayar ke Mauritius. Meski sempat terkena patroli Belanda, mereka pura-pura tersasar. Di Mauritus, pala dan cengkeh ditanam. Tahun 1776 tercatat sebagai panen cengkeh pertama, dan dua tahun kemudian panen pala pertama di Mauritius.

Pala dan cengkeh akhirnya ditanam di negara koloni Perancis lain seperti Seychelles. Namun tak pernah benar-benar tumbuh subur karena kurangpedulian otoritas dan politik setempat.
Ketika Poivre meninggal, usahanya baru terbayar meski keuntungan juga bukan mengalir ke Perancis. Cengkeh rampasan Poivre disalurkan dari Mauritius menuju Madagaskar, Pemba, dan Zanzibar dan tumbuh luar biasa subur.

"Jika akhirnya Poivre ternyata lebih flamboyan daripada efektif, ia tetap menjadi figur ikonik dari mundurnya perdagangan rempah," tulis Turner.

KOMPAS

Cerita Antara Air dan Kopi

Add Comment
Foto: ♥ Air dan Kopi ♥  Kopi : "Janganlah kamu meremehkan secangkir kopi kecil seperti saya. Hargaku cukup mahal. Orang yang minum saya mendapatkan hasil menakjubkan. Jiwa mereka jadi enteng dan rasa lelah pun akan hilang sehingga tidak lagi ngantuk"  Bir : "Mana bisa kopi dibandingkan dengan air seperti saya. Bir adalah minuman terbaik di dunia. Setelah minum, orang akan menjadi bersahabat dan romantis. Selain itu, bir lebih mahal dari kopi, bisa 8x lipat dari harga kopi. Belum termasuk tip lho!"  Kopi : "Oke.. Walaupun saya bukan yang terbaik, saya lebih baik dari yang lain. Paling tidak saya harus bertanya kepada segelas air jernih untuk lebih meyakinkan. Ia hanya minuman gratis di meja ini. Ia tidak berharga sama sekali. Haha.. Menggelikan!"  Air jernih : " Jangan memandang rendah saya. Walaupun saya lebih tak berharga dibanding kalian dalam restoran ini, di gurun pasir saya adalah minuman yang paling menyenangkan"  Teh : "Air jernih masuk akal. Ijinkanlah saya, Merk Special teh Oo Long memberikan penjelasan. Di dunia ini, tidak ada perbedaan nyata atas segala sesuatu yang berharga. Segalanya berharga dan indah apa adanya. Dalam batas-batas nilai uang, teh yang bagus, seperti diriku berharga Rp.50.000.-/ons. Saya tidaklah lebih murah dari kalian berdua. Banyak orang tak peduli pada kopi dan bir, tapi mempunyai minat khusus pada diriku. Dalam menulis dan berpikir, secangkir kopi adalah teman yang baik. Saat bergaul dan perayaan, segelas bir yang baik akan terasa begitu menyenangkan. Dan untuk menghilangkan haus dan menambah cairan tubuh, air jernih adalah yang penting sebagai penyelamat hidup. Maka itu, segala sesuatu di dunia ini memiliki kualitas unik masing-masing. Tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Bila kamu air, perankanlah air sebaik-baiknya. Bila kamu kopi, perankanlah kopi sebaik-baiknya"  Segala sesuatu adalah diri sendiri, tak perlu memutuskan baik vs buruk. Jika kamu adalah segelas air jernih, jangan merasa rendah diri. Air mempunyai artinya sendiri .....  Sumber : Dunia Motivasi


Kopi : "Janganlah kamu meremehkan secangkir kopi kecil seperti saya. Hargaku cukup mahal. Orang yang minum saya mendapatkan hasil menakjubkan. Jiwa mereka jadi enteng dan rasa lelah pun akan hilang sehingga tidak lagi ngan
tuk"

Bir : "Mana bisa kopi dibandingkan dengan air seperti saya. Bir adalah minuman terbaik di dunia. Setelah minum, orang akan menjadi bersahabat dan romantis. Selain itu, bir lebih mahal dari kopi, bisa 8x lipat dari harga kopi. Belum termasuk tip lho!"

Kopi : "Oke.. Walaupun saya bukan yang terbaik, saya lebih baik dari yang lain. Paling tidak saya harus bertanya kepada segelas air jernih untuk lebih meyakinkan. Ia hanya minuman gratis di meja ini. Ia tidak berharga sama sekali. Haha.. Menggelikan!"

Air jernih : " Jangan memandang rendah saya. Walaupun saya lebih tak berharga dibanding kalian dalam restoran ini, di gurun pasir saya adalah minuman yang paling menyenangkan"

Teh : "Air jernih masuk akal. Ijinkanlah saya, Merk Special teh Oo Long memberikan penjelasan. Di dunia ini, tidak ada perbedaan nyata atas segala sesuatu yang berharga. Segalanya berharga dan indah apa adanya. Dalam batas-batas nilai uang, teh yang bagus, seperti diriku berharga Rp.50.000.-/ons. Saya tidaklah lebih murah dari kalian berdua. Banyak orang tak peduli pada kopi dan bir, tapi mempunyai minat khusus pada diriku. Dalam menulis dan berpikir, secangkir kopi adalah teman yang baik. Saat bergaul dan perayaan, segelas bir yang baik akan terasa begitu menyenangkan. Dan untuk menghilangkan haus dan menambah cairan tubuh, air jernih adalah yang penting sebagai penyelamat hidup. Maka itu, segala sesuatu di dunia ini memiliki kualitas unik masing-masing. Tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Bila kamu air, perankanlah air sebaik-baiknya. Bila kamu kopi, perankanlah kopi sebaik-baiknya"

Segala sesuatu adalah diri sendiri, tak perlu memutuskan baik vs buruk. Jika kamu adalah segelas air jernih, jangan merasa rendah diri. Air mempunyai artinya sendiri...

Cinta, Lebaran, Sepakbola dan 17 Agustus.

Add Comment

Postingan ini Spesial Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-67.


Cinta, Lebaran, Sepakbola dan 17 Agustus.


(Catatan: Tommy Rusihan Arief/Direktur Media PSSI)


"Cinta adalah tunas pesona jiwa dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad'' (Kahlil Gibran).

Di bulan suci Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1433 H saya banyak merenung. Terutama menjelang sahur atau berbuka puasa. Mungkinkah bangsa Indonesia yang besar ini sudah kekurangan rasa cinta?
Ataukah rasa cinta di negeri yang religius ini mulai tergerus oleh nilai-nilai individualistis? Mungkin pula karena faktor-faktor keegoan manusia lainnya?


Dalam dunia sepakbola Indonesia, cinta juga seolah pergi dan tergantikan oleh kebencian satu sama lain. Hanya karena alasan individualistis dan egosentris manusia!
Sepatutnya, dibulan yang penuh berkah ini, kita semua merenungkan kembali makna cinta yang sesungguhnya. 


Cinta penuh kasih di bulan penuh maaf, sehingga semua anak bangsa bisa saling memaafkan. Lebaran adalah pesona terindah untuk kesucian hati.
Banyak kekurangan dalam sepakbola Indonesia. Tetapi masih terlalu banyak hal membanggakan yang bisa menumbuh kembangkan rasa cinta. Banyak tunas pesona jiwa yang dapat memikat rasa cinta. Karena jika tunas pesona tidak tercipta dalam sesaat (saat ini), ia tidak akan tercipta bertahun-tahun bahkan abad.


Maka cintailah apa yang baik dan ada dalam persepakbolaan Indonesia. Jika kita tidak melakukannya saat ini, maka kita tidak akan pernah mencintainya selama berabad-abad. Mungkinkah kita selamanya akan kehilangan cinta terhadap kehormatan sepakbola Indonesia?


Kita harus mencintai kisah fantastis penampilan anak-anak muda Indonesia kala itu di Olimpiade Melbourne 1956. Ramang, Khairuddin Siregar, Kwee Kiat Sek, Phwa Sian Liong, Thio Him Tjiang, Tan Liong How dan kawan-kawan, bermain sebagai patriot Indonesia menahan imbang tim raksasa Uni Soviet (0-0) sebelum kalah 0-4 dalam partai ulang.


Hasil di perempatfinal Olimpiade Melbourne 1956 itu sangat istimewa karena Uni Soviet akhirnya menjadi juara. Tim Beruang Merah diperkuat kiper terbaik dunia sepanjang masa, Lev Yashin, yang saat itu berusia 27 tahun. Empat tahun kemudian diperkuat pemain-pemain yang sama, Uni Soviet juara Piala Eropa 1960.


Menurut catatan buku kecil pelatih Uni Soviet saat itu, Gavril Kachalin, (seperti diceritakan almarhum Anatoly Polosin) bahwa Ramang dan Tan Liong How sempat melepaskan empat tendangan keras ke gawang Uni Soviet dan berhasil digagalkan Yashin.
Setelah Melbourne 1956, timnas Indonesia juga mencatat prestasi yang patut diingat dengan rasa cinta. Indonesia mampu masuk perempat final Asian Games 1951, semifinal Asian Games 1954, urutan ketiga Asian Games 1958, perempatfinal Asian Games 1966, perempatfinal Asian Games 1970 dan perempatfinal Asian Games 1986.


Di event internasional lainnya, Indonesia juga menjadi juara Merdeka Games di Kuala Lumpur, empat kali (1960, 1961, 1962, 1969). Juara Agha Khan Gold Cup di Dacca, empat kali (1961, 1966, 1967, 1968) dan King's Cup di Bangkok, satu kali (1968).
Di tim Asian All Stars 1966-1970, tercatat empat pemain Indonesia yakni Soetjipto Soentoro, Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan sang legenda, Soetjipto Soentoro, menjadi kapten kesebelasan.


Ketika kompetisi semiprofesional Indonesia (Galatama) bergulir 1979, Federasi Sepakbola Jepang (JFA) mengirim utusan untuk berguru. Hasilnya, kompetisi profesional Jepang (J-League) bergulir sejak 1993 dan yang terbaik di Asia sampai saat ini.


Sepakbola tidak hanya soal menang kalah. Menang jadi penambah semangat. Kalah jadi pelecut semangat. Timnas Indonesia juga pernah mencatat kemenangan besar (12-0) atas Philipina pada 22 September 1972 di Seoul, Korea Selatan. Juga menang (13-1) atas Philipina, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 23 Desember 2002.
Tetapi kekalahan itu melecut Philipina untuk bangkit. Sekarang Philipina berada di peringkat 150 FIFA, lebih baik dari Indonesia (peringkat 159 FIFA).


Kita harus mengucapkan terimakasih dengan rasa cinta kepada pelatih-pelatih hebat timnas Indonesia yang mengharumkan Merah Putih. Mulai dari Antun 'Toni' Pogacnik, E.A. Mangindaan, Wiel Coerver, Endang Witarsa, Djamiat Dahlar, Sinyo Aliandoe, Bertje Matulapelwa, Anatoly Polosin, dan seterusnya. Keberhasilan mereka di masa lalu, dapat menjadi inspirasi bagi pelatih timnas Indonesia masa kini.


Bersama para legenda timnas Indonesia di masa lalu, para pelatih piawai ini adalah pahlawan bangsa di lapangan hijau. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk kehormatan sepakbola Indonesia di forum internasional.
Momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2012, refleksi cinta untuk saling memaafkan demi kehormatan bangsa, sangatlah bermakna. Spirit dan semangat juang pantang menyerah yang dicontohkan para pemain timnas di masa lalu, menjadi teladan bagi kita semua.


Karena di forum internasional, hanya dua moment dimana Lagu Kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dan bendera Merah Putih berkibar. Yaitu saat kunjungan kenegaraan Presiden ke luar negeri dan saat timnas Indonesia memenangkan kejuaraan antar bangsa.
Jadi tanggal 17 Agustus, tidak sekadar ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, 17 Agustus adalah sumber inspirasi bangsa untuk merapatkan barisan, menyatukan langkah dan membulatkan tekad menuju Indonesia jaya.


Dengan cinta, makna kesucian Hari Raya Idul Fitri 1433 H dan refleksi 17 Agustus, kita dapat menyimak setiap persoalan termasuk urusan sepakbola Indonesia, dengan lebih proporsional.
Dengan cinta, kita akan merasa tulus memiliki sepakbola Indonesia. Tidak dengan kata-kata. Bahkan dengan cinta yang sederhana.

''Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tidak diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak sempat dilakukan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada'' (Kahlil Gibran).

Seandainya sepakbola Indonesia penuh cinta, tidak perlu ada prahara. Karena prahara hanya mendatangkan nestapa.
Perlu rasa cinta dari semua orang untuk mendorong persiapan timnas menghadapi Piala AFF 2012. Rasa cinta dari semua stakes holder sepakbola Indonesia, diperlukan Nil Maizar sebagai pelatih. Sebab dibutuhkan persiapan spartan, untuk menghadapi tim kuat seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, ataupun Thailand, guna menggapai kebanggaan tertinggi di Piala AFF 2012.

Kita tidak mencari yang tidak kita dapatkan.
''Dengan apa saja kau jumpai, kau ciptakan permainan, kau buat kegembiraan, sementara aku habis waktu, habis pula tenaga mencari yang tak terdapatkan'' (Rabindranath Tagore).

Jayalah sepakbola Indonesia..!
Selamat HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2012. Merdeka..!
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Minal Aidin Walfaidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin!